Blog Baru
1 No Comments »Baik, karena di alamat blog ini agak susah mengatur template dan beberapa html tidak bisa keluar, maka saya putuskan untuk pindah ke blog di bawah ini…
Terima kasih ^_^
Baik, karena di alamat blog ini agak susah mengatur template dan beberapa html tidak bisa keluar, maka saya putuskan untuk pindah ke blog di bawah ini…
Terima kasih ^_^
Tak ada makna dalam kata pabila dicari
Karena kata adalah makna itu sendiri
Tak ada kata yang terlalu apik pabila dipetik
Karena kata itu sendiri telah puitik
4 September 2010
Ai | Ran | Conan/Shinichi
Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho
Pukul 2 dini hari. Malam sudah menempuh 2/3 perjalanannya. Angin hanya menyepoi saja, mengekor dingin yang telah lebih dulu menyelimuti tempat itu. Kalau saja wajah langit tak sekelabu itu, pasti telah tampak bintang-gemintang yang bagai ditumpahkan di atas sana. Indah. Sayang, malam itu udara basah, meski hanya rinai saja. Tapi cukup untuk membuat bumi di bawahnya kuyup.
Seseorang mendesah. Desahan yang panjang, sebenarnya. Ia berdiri di balik kaca jendela kamarnya yang mengembun. Ia memejam. Menempelkan wajahnya di kaca. Nafasnya mengabut lembut di kaca. Senyum simpul menghias secara sederhana di wajahnya yang basah oleh airmata. Syahdu, ia mendendang. Melantunkan nada indah yang memilukan. Sebuah lagu kerinduan yang juga sederhana, diiringi musik gerimis yang sendu. Purna sudah.
Saat gerimis usai, ia telah berbaring kembali di ranjangnya yang nyaman. Masih menangis. Juga masih terjaga. Matanya memandang kosong dinding di depannya. Merasa tak nyaman, ia membalikkan tubuh. Sesuatu di atas meja samping ranjang menarik perhatiannya. Sebuah ponsel. Dipandangnya ponsel itu lamat-lamat. Setelah beberapa detik yang ribut di kepalanya, ia menyambar ponsel itu. Membuka pesan singkat yang sempat mampir lebih dari setahun lalu yang takkan pernah bisa dihapusnya.
Kalau kita bisa lolos dari semua ini, apa kau mau berhenti lari dan menungguku?
Ia mendesah lagi. Dan airmatanya menderas lagi. Rasa sesal itu belum hilang. Masih begitu menancap. Karena itukah ia tak pernah bisa berhenti menangis?
Ia telah begitu lama mendiamkan pertanyaan itu. Saat pada akhirnya ia memiliki jawaban, semuanya sudah terlambat. Ribuan kali ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini bukan salahnya. Semua ini takdir yang telah ditetapkan dari langit. Bukan salahnya. Tapi, penyesalan itu lebih kuat dari yang dia bayangkan. Percuma.
“Berjanjilah padaku.”
Ia menatap nanar bocah berkacamata di sebelahnya. Ia diam, tak menanggapi kata-katanya. Bocah itu meminta sebuah janji lagi darinya. Pasti janji konyol seperti sebelum-sebelumnya.
“Apapun yang terjadi, jangan coba-coba untuk bunuh diri lagi,” kata bocah itu. “Apapun yang terjadi, jangan lari lagi.”
Ia masih terdiam. Dan masih menatap bocah berkacamata itu. Nanar.
“Kau meminta terlalu banyak, Kudou-kun,” sahutnya dingin.
“Haibara, kau tidak bisa terus-”
Ia menatap tajam bocah itu, membungkamnya. Ia menghela perlahan. Setelah beberapa jenak, ia menatap bocah itu lagi. Kali ini lebih mantap. Ia telah memutuskan.
“Aku janji,” katanya. “Kau puas?”
Meskipun masih sanksi, bocah itu tersenyum.
Ia menutup ponsel itu dan meletakkannya kembali ke meja. Ia telah berhenti menangis. Meskipun kenangan itu kembali menusuk hatinya, airmatanya tak bisa keluar lagi. Mungkin matanya telah lelah dengan waktu setahun yang digunakannya untuk menangis di tiap malamnya. Tanpa absen satu malam pun.
Rasa sesal itu kembali. Seandainya saja ia lebih berhati-hati dengan janjinya. Seandainya saja ia tak sembarangan menjanjikan sesuatu yang amat sulit ia tepati, ia sudah lama menyusul bocah itu ke alam sana.
Ia mencoba untuk menangis lagi, agar rasa bersalah itu mengalir bersama airmatanya. Lenyap tak berbekas. Dan bebannya akan menguap sedikit demi sedikit. Sia-sia. Airmatanya telah kering. Hanya meninggalkan rasa sesak yang teramat sangat di dadanya.
Ia menatap kosong pada kejadian yang berlangsung di hadapannya. Sebuah tragedi. Dan yang namanya tragedi selalu bersifat tragis.
Gadis itu berlutut di hadapannya. Bukan menghadapnya. Gadis itu berlutut membelakanginya, sambil memeluk erat sesosok tubuh kecil yang terkulai tak berdaya. Tak bernyawa. Gadis itu terisak. Mulai meraung. Sebuah kacamata tergeletak di lantai dermaga. Patah.
Ingin rasanya ia berbalik dan berlari. Ingin rasanya ia pergi dari tempat itu, menyendiri. Agar ia bisa menangis seperti gadis itu. Agar ia bisa memutus waktunya sendiri, tanpa ada siapapun yang coba melarangnya. Tapi ia tak pernah bisa melakukannya, meskipun di kemudian hari memiliki banyak waktu untuk sendiri. Dan semua itu gara-gara janji sial itu.
Ia masih menatap kosong tragedi di hadapannya. Ia tak peduli dengan noda gelap yang melumuri kemeja putihnya. Ia tak peduli dengan warna merah pekat yang begitu lengket mengotori kedua tangannya. Ia tak peduli. Karena itu bukan darahnya.
Di penghujung malam, matahari mulai menyembul malu-malu di garis cakrawala. Ia melangkahkan kaki menuju lantai bawah, tak memedulikan dengkuran pria gendut tua yang menggema memenuhi seisi rumah. Ia bahkan tak memedulikan nyanyian irama perutnya yang lapor minta diisi. Sudah dua hari kosong melompong. Ia tak mampir ke dapur mengambil sesuatu untuk menghentikan irama itu. Apa pedulinya kalau ia kelaparan. Apa pedulinya kalau nanti ia jatuh sakit. Bukankah ia memang ingin cepat-cepat mati saja? Maka, ia terus berjalan.
Ia mendatangi tempat itu lagi. Ritual hariannya tiap pagi tanpa kenal bosan. Dan tempat itu selalu sama. Puluhan gundukan tanah dengan sebuah nisan di masing-masing gundukannya. Lengang. Seperti biasa. Hingga sudut matanya menangkap sesosok bayangan manusia di salah satu gundukan yang biasa ia datangi. Siapa?
Setelah ia sampai di gundukan itu, sosok itu mulai jelas bentuknya. Sesosok gadis berambut panjang yang tengah berjongkok di depan salah satu nisan. Berdoa. Gadis itu, gadis yang sama dengan gadis yang memeluk sesosok tubuh kecil yang sudah membeku. Mati. Ia terhenyak menatap punggung gadis itu. Ragu untuk mendekat.
Gadis itu berdiri tiba-tiba. Lalu berbalik cepat. Dan terkejut dengan kecepatan yang sama saat melihat seorang gadis kecil berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan keterkejutan yang sama. Beberapa detik berlalu, gadis itu mulai bisa mengendalikan dirinya.
“Kau ingin berdoa, Ai-chan?” katanya lembut. Sebelum akhirnya tersadar dengan tatapan mata anak perempuan di hadapannya. Ia menyesal. “Ah, maaf. Aku terlalu terbiasa memanggilmu seperti itu. Aku lupa kalau kau lebih tua dariku.”
Betul. Kebenaran itu akhirnya terkuak. Organisasi itu akhirnya tamat. Tapi bayarannya amat mahal. Dan anak perempuan itu tergugu. Ia takkan pernah bisa kembali ke tubuhnya semula. Ia akan selamanya terperangkap dalam tubuh seorang anak kecil. Obat penawar itu gagal. Karena ia telah terlalu lama mengecil, syarafnya tak bisa beradaptasi dengan obat penawar itu. Kalau dipaksa, ia akan segera bergabung dengan bocah itu di dunia lain. Ia mau saja melakukan itu. Apa daya, sekali lagi janji sial itu mengacaukan rencananya untuk menjemput maut.
Ia menatap gadis itu lamat-lamat. Matanya merah dan wajahnya basah. Mata merah yang menatapnya terluka itu menikamnya diam-diam. Begitu dalam. Ia memalingkan wajahnya seketika. Dan mendesahkan kata itu perlahan, “maafkan aku.”
Gadis itu berjongkok perlahan setelah menghapus airmatanya sendiri. Gadis itu memandangnya penuh. Meraih dagunya lembut, memaksanya untuk saling bertatapan.
“Bukan salahmu,” katanya.
“Tapi, kalau bukan karena melindungiku-”
Sentuhan lembut jemari gadis itu di bibir bawahnya membungkam anak perempuan itu.
“Itu pilihannya,” katanya. “Shinichi lebih memilih menggantikanmu untuk dijemput kematian. Itu pilihannya. Bukan salahmu. Ia ingin kau hidup. Sama seperti ia ingin aku hidup. Ia memilih kita berdua, Miyano-san..
“Apa kau tahu? Berkali-kali aku ingin mati saja. Walau mungkin tak sebanyak dan sebesar keinginanmu. Tapi, kalau ingat dia ingin aku melanjutkan hidupku, kalau ingat dia akan sangat tersiksa jika tahu aku mati gara-gara dia, tiba-tiba keinginanku urung dengan sendirinya. Aku tahu ia sangat berarti untuk kita berdua. Begitu pula sebaliknya, kita berdua sangat berarti untuknya. Apa kau tak merasa begitu juga?
“Kau tak akan menyerah semudah ini kan? Sudah setahun berlalu, apa kau tak bisa mengenyahkan saja keinginan untuk mati itu? Jangan sia-siakan pengorbanannya. Aku mohon.”
Lagi, dadanya terasa sakit. Teramat sangat sakit. Ia menatap lagi gadis di hadapannya. Matanya mulai mengabut. Senyum terluka gadis itu menghentak alam bawah sadarnya. Ia tak pernah sedekat itu dengan gadis itu. Ia tak pernah berbincang seakrab itu dengan gadis itu. Entah bagaimana, seolah-olah wajah Akemi-lah yang saat ini tengah membentuk di hadapannya. Kakak tersayangnya di hadapannya. Perlahan, ia mulai terisak. Ia menghambur ke arah kakak yang amat disayanginya itu. Memeluknya erat.
Gadis itu, Mouri Ran, hanya terkesiap saat anak perempuan itu menangis dan memeluknya tiba-tiba. Airmata yang tadi dihapusnya, telah membentuk sungai di wajahnya. Sekali lagi ia menangis. Kuatkan kami, Shinichi, batinnya.
Anak itu berkali-kali merintih, memanggil nama kakaknya tanpa henti. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri gara-gara janji itu. Seiring dengan dadanya yang makin menyesak, ia berbisik pelan, Kudou-kun, apa kau takkan pernah mengijinkanku melanggar janji itu?
Perlahan kenangan itu muncul kembali. Sesaat setelah bocah berkacamata itu menyelamatkannya dari bis yang meledak setelah kasus pembajakan bis, kata-kata bocah itu menggema menelusupi tiap inchi ruang hatinya yang paling gelap.
Jangan lari, Haibara. Jangan lari dari takdirmu sendiri.
Dan mereka berdua pun bertahan. Meski, tentu saja. Kehidupan keduanya takkan pernah sama lagi.
Assalamu’alaykum Warrahmatullahiwabarakatuh
Wa’alaykumussalam Warrahmatullahiwabarakatuh
Barusan aku ditanya kakakku. Pertanyaan yang membuatku merasa sedikit aneh.
Apa?
Kok sudah umur segini masih jomblo saja sih? Apa gak laku? Mau Mbak cariin pacar po? Semacam itu. I’m silent suddenly =_=
Kenapa merasa aneh dengan pertanyaan itu?
Kenapa malah balik nanya!?
Tentu saja aku merasa aneh. Kok di masyarakat sekarang, pacaran itu seperti tradisi ya? seperti sudah melekat di darah daging setiap orang. Kalau gak punya pacar, dibilang gak laku. Kalau gak punya pacar, ke laut aja =_=
Padahal, aku berusaha keras untuk menjalankan agama dengan sebenarnya, tapi di mata mereka, salah lagi salah lagi.
Bukan kamu di mata mereka yang penting, tapi kamu di mata Sang Pencipta. Memang, sulit menghadapi umat muslim yang tanpa ilmu. Semakin dijelaskan, mereka akan semakin mementahkan perkataan kita dengan sesuatu yang tak ada dasarnya sama sekali.
Sebenarnya pacaran itu apa sih? Bikin pusing aja.
Menurut asal bahasanya, pacaran itu saling mengenal dalam rangka menuju jenjang pernikahan, kira-kira pengertiannya setara dengan ta’aruf. Tapi, sekarang ini, pengertian ataupun realisasi pacaran sudah dilencengkan jauh sekali menuju taraf kebobrokan. Pacaran bukan lagi suatu kegiatan saling mengenal dalam rangka menuju jenjang pernikahan, tapi sudah menjadi suatu hubungan antara laki-laki dan perempuan bukan mahram yang kegiatan dalam pacaran itu sendiri jauh dari ajaran Islam. Sekarang, bahkan anak-anak SD yang masih bau kencur sudah mulai mengenal pacaran dan tidak sedikit yang menjadi pelaku pacaran.
Hah? Anak-anak SD? Kok bisa?
Ya bisa. Seperti apa dulu lingkungannya? Apalagi dengan racun yang diberikan televisi dewasa ini. Tidak jarang orangtua, saudara, atau lingkungan sekitar ikut mendukung kegiatan rusak itu. Belum lagi, dengan kondisi bangsa Indonesia kita yang entah sejak kapan mulai berkiblat pada paham kebarat-baratan dan menghinakan dirinya sendiri. Memilukan, memang.
Memang benar. Dulu, mereka menjajah kita dengan kekerasan. Sekarang, mereka menjajah kita dengan sesuatu yang bisa meluluhlantakkan karakter anak bangsa dari dalam dirinya sendiri. Entah harus bilang apa.
Ya, tak hanya bangsa kita. Sekarang ini, mereka menyerang Islam dari luar dan dalam sekaligus. Dari luar dengan membombardir negeri-negeri Islam di timur tengah sana. Dari dalam dengan memasukkan paham kebarat-baratan ke dalam umat islam itu sendiri. Tinggal sasar saja umat muslim yang gak terlalu paham agama dan beribadah hanya dengan modal jadi makmum.
Salah satunya dengan pacaran itu ya?
Ya. Mana ada sih pacaran jaman sekarang yang terbebas dari pandang-memandang, berdua-duaan, pegangan tangan, pelukan, cipika cipiki atau ciuman yang lain, dan masih banyak yang lebih ngeri lagi. Oh ya, kita juga harus hati-hati tuh dengan HP kita, bisa-bisa bikin kita kena azab Allah Azza wa Jalla kalau tidak dipergunakan dengan bijak.
HP? Maksudnya Handphone? Apa hubungannya?
Sekarang aku tanya, apa kamu sering SMS-an atau telpon-telponan dengan lelaki yang bukan mahrammu?
Ya… sering, sih. Salah ya?
Memang sah-sah saja. Tapi berhati-hatilah dengan apa yang kalian bicarakan. SMS-an atau telpon-telponan itu termasuk bentuk lain dari berkhalwat (berdua-duaan tanpa disertai mahram). Dalam hal ini, chatting juga termasuk. Kenapa? Karena tak seorang pun selain kalian berdua yang ambil peduli dengan apa yang kalian bicarakan. Saat berinteraksi dengan lawan jenis lewat SMS, telpon ataupun chatting, seolah dunia milik berdua. Tak jarang kita jadi lupa waktu.
Astaghfirullah… yang begitu termasuk berkhalwat juga!? Memang, pembicaraan kami tidak melulu sekitar urusan agama ataupun hal yang kami anggap penting untuk dibahas. Tidak jarang itu hanya SMS atau telpon gak penting. Terus bagaimana? Sudah kepalang tanggung. Masak HP mau dijual biar gak usah SMS-an atau telpon-telponan lagi?
Ya gak perlu seekstrim itu. HP itu juga bisa kita pergunakan untuk hal yang baik kok. Misalnya saja dakwah. Jadi, kalau kita dapat gratisan SMS, kan sering tuh ada gratisan SMS dari kartu SIM yang banyak beredar sekarang, jangan kita gunakan untuk SMS-an gak penting. Mubazir, kan?
Lalu?
Kita bisa kirimi kutipan ayat-ayat Al Qur’an atau hadits-hadits Rasulullah atau nasehat-nasehat kebaikan ke orang-orang yang kita kenal. Yang seperti itu kan lebih bermanfaat dan bisa menjauhkan kita dari fitnah. Ini sesuai dengan kandungan isi surat Al Asr yang menyuruh kita untuk saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Iya gak? Dan kita akan bisa menghemat pulsa dan tidak boros. Gak lucu kan kalau uang saku bulanan kita terkuras hanya untuk beli pulsa? So, kalau kita bisa pergunakan HP dengan bijak, pahala-lah yang akan menanti kita, bukan dosa. Siapkah kamu bikin perubahan?
Yup. But, it’ll be a bit difficult. Gimana dong kalau temanku itu yang mulai memancingku untuk SMS-an dengannya? Kalau kubalas singkat-singkat, nanti dia kira aku marah. Kalau tidak kubalas, dia gak akan berhenti SMS.
Gampang. Tegaskan hubunganmu dengannya. Hanya teman. Sebatas teman, gak lebih. Jangan masuk ke kawasan TTM atau malah HTS-an, apalagi pacaran. Kalau tujuan dia SMS kamu masih belum kelihatan, tanyakan. Gak usah takut, kamu punya hak untuk tanya. Kalau memang tujuannya memang penting, segera tanggapi langsung ke pokok permasalahan, jangan bertele-tele dan jangan memancing dengan kata-kata yang memungkinkan dia untuk membalas SMS lagi. Kalau kepepetnya dia SMS lagi, lihat isi SMSnya. Kalau butuh dibalas, balas seperlunya. Kalau gak butuh dibalas, gak usah dibalas. Kalau setelah gak ada balasan darimu, tapi dia tetep ngotot SMS, biarin aja, nanti juga capek sendiri. Itu kalau ada tujuannya. Kalau dia SMS hanya untuk iseng dan isinya memang gak penting, biarin aja gak usah ditanggapi, buang-buang pulsa.
Lalu, gimana caranya agar kita gak terperosok ke kegiatan rusak semisal pacaran?
Ilmu. Kamu ngaku orang Islam? Pelajarilah ilmu mengenainya. Karena agama Islam bukanlah agama yang bisa dijalankan tanpa ilmu. Jangan sampai kamu jadi orang Islam yang hanya modal jadi makmum dan hanya bisa mengikuti apa kata orang tanpa tahu dasar dan dalilnya dengan jelas, atau kamu akan terperosok lebih dalam. Ingat! Ilmu tanpa agama itu lumpuh, sedangkan agama tanpa ilmu itu buta. Keduanya tak terpisahkan.
OK! Konkretnya?
Pertama, jaga pandangan. Jangan suka mengumbar pandangan ke hal-hal gak penting. Kalau berhadapan dengan lawan jenis, jangan ditatap lama-lama ntar keenakan (kalau pengen lebih aman, gak usah ditatap sekalian).
Kedua, tutupi aurat. Kalau yang ini udah ngerti kan?
Yup, kan sebelumnya sudah kita bahas. Terus apa lagi?
Ketiga, jangan berdua-duaan dengan lawan jenis. Ini berlaku bukan cuma waktu dua orang cowok cewek berduaan di tempat gelap, tertutup, sepi, gak ada yang lihat. Bukan cuma itu. Boncengan, mojok di kelas, mojok di kantin, mojok di perpus, pokoknya segala yang mojok-mojok yang orang lain gak ambil peduli dengan pemojokan keduanya itu, itu termasuk berdua-duaan. SMS-an, telpon-telponan, chatting, surat-suratan (emang masih jamannya surat-suratan ya?), saling kirim e-mail, itu juga termasuk. Jadi, kamu musti super hati-hati dengan bentuk lain dari berdua-duaan, konotasinya ada banyak.
Terus, kalau bicara, gak usah dimanis-manisin, dilembut-lembutin, atau dibuat mendayu-dayu atau mendesah-desah (idih, emang apaan ya?). Kalau bicara, biasa aja kali. Gak usah lebay. Mimik atau ekpresi wajah saat bicara juga gak usah dibuat aneh-aneh. Buat gerakan seminimalisir mungkin.
Kalau jalan, jangan lenggak-lenggok kayak model catwalk (kucing aja kalau jalan lebih normal daripada model).
Terus?
Jaga diri, jaga hati. Terutama kalau kamu harus kerja bareng lawan jenis, cobalah minimalkan interaksi dengan mereka. Mungkin agak sulit, karena seringkali itu di luar kehendak kita. Yah, jaga hati kamu sajalah. Jangan mudah kepincut sama lawan jenis.
Jangan suka ngeliat, baca, atau dengar sesuatu yang bisa ngompor-ngompori kamu buat pacaran.
Waduh! Yang terakhir itu kayaknya agak susah nih. Itu sudah jadi penyakit parah terutama buat cewek. Cewek kan suka yang romantis-romantisan.
Makanya, hindari itu! Mungkin niat awal kamu cuma mau coba lihat. Duh, kok katanya sinetron ini ceritanya bagus ya? Terus kamu coba nonton. Yah, namanya juga sinetron, pasti bersambung kan? Ujung-ujungnya kamu jadi penasaran dan keterusan. Padahal, sinetron sekarang selalu berkitar masalah cinta-cintaan. Akhirnya, kalau iman gak kuat, kamu bisa tergoda buat pacaran. Iya gak? Baca buku juga sama aja. Kalau kamu gak pinter-pinter menyeleksi buku yang kamu baca, bisa-bisa kebablasan. Nonton film di bioskop juga musti pilih-pilih. Denger lagu juga jangan melulu yang temanya cinta-cintaan. Daripada itu, mending dengerin nasyid, atau puter aja murottal Al Qur’an di MP3 player kamu (kalau punya). Yang seperti itu jauh lebih banyak faedahnya. Bukankah Rasulullah menghimbau kita agar meninggalkan hal-hal yang sia-sia dan tak bermanfaat?
Wah, banyak ya?
Mungkin kesannya banyak, tapi setelah dijalani, gak kerasa lho! Coba aja.
Dan tentu saja, perbanyak mendekatkan diri pada Allah, perbanyak istighfar juga.
Kalau masih gak kuat? Kalau nafsu syahwat kita masih terlalu kuat? Bisa-bisa nanti tergelincir ke arah zina. Gimana cara menghindarinya?
Nikah.
What!? Aku tanya serius nih!
Aku juga jawabnya serius, kok.
Kenapa nikah?
Karena itu sunah Rasulullah. Bukankah Beliau pernah bersabda seperti ini? “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu, hendaklah menikah. Karena ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (HR. Bukhari)
Kalau terbentur ijin orangtua? Apa jadinya kalau kita bilang ke ortu pengen nikah cepet? Nanti malah keluar macam-macam wejangan, tak jarang omelan. Entah kita masih muda lah, entah kita masih kuliah lah. Susah, nih. Lagian, kita juga gak boleh nikah tanpa ijin ortu kan?
Asal tujuan kita untuk nikah itu bener, gak cuma sebagai alat menghalalkan zina atau biar bisa dapet pacar yang gak haram dipacari, Allah sudah janji bakal nolongin kita kok.
Tahu darimana?
Rasulullah sendiri yang bilang: Tiga orang yang Allah wajib membantunya; orang yang menikah (karena) menghendaki kehormatan dirinya, budak yang hendak memerdekakan diri dengan membayar sejumlah uang kepada tuannya, dan orang yang berperang di jalan Allah.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim)
Semoga ya?
Iya, kita yakini saja.
Hei, aku bingung deh dengan saudari-saudariku. Padahal sama-sama mengaku muslimah, tapi kenapa mereka sering mencibirku tiap kali melihatku pakai jilbab dan kaos kaki di rumah ataupun waktu keluar rumah ya? Mereka selalu tanya apa aku takut kalau kulitku jadi hitam? Bahkan saat di rumah juga. Padahal kulakukan itu karena perintah Allah SWT. Lagipula, alasanku di rumah memakai jilbab dan kaos kaki karena ada suami salah satu saudariku itu, alias kakak iparku. Aku salah apa sih?
Kamu gak salah, kok. Mereka saja yang belum memahami perintah-Nya pada segenap muslimah di dunia, tanpa terkecuali.
Lalu, aku tidak salah kan pakai jilbab dan kaos kaki waktu kakak iparku datang berkunjung? Aku juga tidak salah kan saat menolak bersalaman dengannya?
Iya, tidak salah. Karena ipar bukanlah mahram kita, jadi kita wajib menutup aurat kita kalau ada kakak ipar berkunjung ke rumah. Bahkan Kanjeng Nabi pernah menyamakan saudara ipar dengan kematian. Jadi, kamu tidak salah jika menolak bersalaman, karena itu memang dilarang oleh agama.
Saudara ipar sama saja dengan laki-laki asing. Kita sebagai muslimah dilarang bersentuhan dengan mereka, berkhalwat (berdua-duaan tanpa disertai mahram) dengan mereka, menampakkan aurat pada mereka, atau apapun yang biasanya dilarang agama dilakukan muslimah terhadap laki-laki yang bukan mahramnya. Intinya, jauhi mereka. Kamu bisa, kan?
Gampang gampang susah, sih. Soalnya kalo aku sengaja menjauhi mereka, nanti saudari-saudariku marah. Bahkan orangtuaku pernah memarahiku karena tidak mau bersalaman dengan saudara iparku. Aduh, kalau orangtua sudah ikut-ikutan bicara, jadi takut melawan. Takut durhaka.
Yang seperti itu bukan durhaka, namanya. Ingat, lho! Tidak ada yang namanya ketaatan pada makhluk lain jika kita berbuat maksiat pada Allah SWT. Melawan orangtua karena ingin menegakkan agama Allah SWT, itu diharuskan. Asalkan dilakukan dengan baik-baik (jangan terbawa emosi sampai-sampai kamu membentak-bentak mereka, itu tidak boleh). Eh, terus apa yang kamu lakukan?
Apanya?
Apa kamu jadi bersalaman dengan kakak iparmu setelah dimarahi orangtua?
Tentu saja tidak. Karena dimarahi, aku diam saja. Aku tidak membantah, tapi pendirianku untuk tidak mau bersalaman dengan mereka tetap kokoh. Biar pengetahuanku bolong di sana-sini, aku kan tetap punya keinginan menjalankan Islam seutuhnya.
Alhamdulillah ^_^
Ngomong-ngomong, aku jadi prihatin lho dengan fenomena muslimah saat ini. Kok kesannya mereka itu kekurangan uang ya?
Apa maksudmu?
Lihat saja! Sekarang ini sudah semerbak kemana-mana muslimah dengan pakaian minim sekali, sudah masuk tuh dalam kategori pakaian gak pantas pakai.
Memangnya pakaian yang pantas pakai itu seperti apa?
Tak satupun pakaian yang pantas dipakai seorang muslimah, selain hijab dan jilbab. Pakaian itu harus tebal, longgar (tidak ketat), dan menutup seluruh bagian tubuh. Wajah dan telapak tangan kalau mau ditutup, silakan. Kalau tidak, rasanya juga tidak ada larangan (atau ada?). Makanya, pakaian yang masuk kategori pakaian pantas pakai untuk muslimah ya pakaian Syar’i seperti yang kubilang di atas. Apa mereka gak punya uang untuk beli pakaian yang lebih pantas dipakai seorang muslimah ya?
Mengenai wajah dan telapak tangan boleh diperlihatkan atau tidak, ada ulama yang membolehkan dan ada pula yang tidak (silakan tentukan sendiri mana yang lebih baik, karena Rasulullah SAW juga tidak melarang diperlihatkannya wajah dan telapak tangan, tapi harus disertai dengan menundukkan pandangan, lho! Ingat, zinanya mata itu dengan memandang, jadi pergunakan matamu untuk memandang yang baik-baik saja. Yang buruk-buruk? Tendang saja jauh-jauh ^_^). Oh ya, karena sudah kamu sebut-sebut soal pakaian gak pantas pakai tadi, aku jadi ingat kalau Kanjeng Nabi pernah bersabda hal yang serupa.
Yang mana?
Rasulullah SAW pernah bersabda seperti ini: “Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat tercium dari perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)
Maksudnya “berpakaian namun telanjang” itu apa? Memangnya ada ya?
Tentu saja ada. Maksud Kanjeng Nabi adalah wanita-wanita itu memang berpakaian, tapi pakaiannya tipis sehingga bentuk-bentuk tubuhnya kelihatan. Pakaian ketat yang langsung melekat di tubuh sehingga lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas juga termasuk dalam kategori ini. Pakaian minim yang kamu sebutkan tadi juga termasuk dalam kategori ini.
Tapi, kayaknya mode pakaian ketat, tipis, dan minim bukannya saat ini tengah merajalela ya? Bahkan mode-mode begitu ikut menjangkiti para muslimah. Memang sih pake jilbab, tapi kalau pakaiannya superketat, pakai celana pensil yang ngepress-body begitu, kakinya kelihatan pula. Sama saja bohong, kan?
Aku setuju sama kamu. Mode-mode maupun pemikiran barat yang amat sangat merusak itu memang sudah sangat merasuki para muslimah jaman ini. Alasannya sih, ikut trend biar gak ketinggalan jaman. Ikut arus globalisasi, gitu. Nonsense. Tahu gak sih? Agama melarang kita untuk meniru wanita-wanita barat, lho! Baik dari segi penampilan ataupun tingkahlaku. Tapi, benar-benar memilukan ya? Para muslimah sekarang banyak sekali yang suka meniru penampilan ataupun tingkahlaku wanita-wanita yang bukan Islam. Aku jadi ingin menangis menyaksikan semua itu. Sekarang ini, justru para muslimah yang masih punya kesadaran untuk berpakaian Syar’i malah banyak dicibir. Seperti kasusmu dengan saudari-saudarimu tadi.
Siapa peduli trend? Aku gak peduli biarpun dibilang ketinggalan jaman. Aku gak peduli biarpun dicibir seperti apapun. Islam memerintahkan memakai pakaian Syar’i kan untuk menjaga kita-kita, para muslimah, agar tidak diganggu. Iya, gak? Siapa kita berani-beraninya tawar-menawar dengan hukum Allah SWT?
Kalau itu jangan tanya. Aku juga mana berani. Kita yang pengetahuannya masih amat sangat jauh sekali dari ujung kuku pengetahuan semesta Allah SWT ini, mana bisa tawar-menawar. Tidak ada tawar-menawar! Memangnya kita sudah merasa MAHA pintar, sampai berani tawar-menawar segala? >_>
Aku gak ikut-ikutan deh kalo soal itu. >_>
Oh ya, sebenarnya kita boleh pake celana gak sih? Gak ngepress-body kok. Celananya longgar banget, jadi bentuk kaki takkan kelihatan.
Tetap saja membentuk kaki, kan?
Eh, i-itu…
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak termasuk dalam golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita.”
Lalu, dalam sabda Kanjeng Nabi SAW yang lain: “Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, wanita yang bertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki, dan dayyuts (orang yang tidak memiliki rasa cemburu).”
Ah, aku pernah dengar Hadits itu…
Iya, kan? Memakai celana sama tidak dengan menyerupakan diri dengan kaum pria?
I-iya sih. Sama.
Nah, jadi?
Jadi, tidak boleh pake celana karena itu menyerupai kaum lelaki dan juga menggambarkan bentuk kaki biarpun tidak terlalu kelihatan.
Yup, pinter…
Eh, tapi… kalau pakai celana panjang, lalu dilapisi dengan rok panjang? Soalnya, kalau cuma pake rok panjang saja, kalau naik motor dan berhenti di lampu merah, kita kan harus menurunkan kaki sebagai topangan. Terus, kalau tidak pake celana panjang di dalam rok panjang, kaki kita bisa kelihatan, biarpun pake kaos kaki sampai di atas lutut, tapi kaos kaki kan ketat, bentuk kaki jadi kelihatan.
Nah, kalau kasusnya seperti itu, pakai celana panjang di dalam rok panjang menjadi wajib. Tentu saja harus celana panjang yang longgar, jangan yang ketat.
Eh, tanya lagi. Kalau ada seorang muslimah yang sudah berpakaian Syar’i tapi kakinya masih kelihatan, gimana?
Kok masih tanya sih? Sudah pasti gak boleh kan? Kaki itu termasuk aurat, makanya harus ditutup. Tinggal pakai kaos kaki, selesai. Apa susahnya?
Gak tahu ya… Soalnya aku masih sering lihat seorang muslimah yang pakaiannya sudah longgar, jilbabnya diulurkan hingga menutup dada, pakai rok panjang, tapi kakinya masih kelihatan (karena gak pakai kaos kaki). Aku pernah iseng-iseng tanya, dia bilang alasannya sih karena gerah, repot, dan kaki jadi sulit bernafas (sumpek, gitu).
Ah, itu sih cuma alasan saja. Yang begitu tetap gak boleh. Coba periksa seluruh firman Allah SWT dan seluruh sabda Rasulullah SAW. Pasti gak ada satu pun yang mengatakan kalau kaki itu bukan aurat dan kita boleh menampakkannya. Kaki itu aurat dan kita harus menutupnya.
Jadi keasyikan, nih. Islam itu ternyata asyik ya kalau kita tahu hukum dan alasan diberlakukannya hukum itu. Aku jadi ingin lebih mempelajarinya lagi. Dan menerapkannya, tentu saja.
Ayo kita belajar sama-sama. Aku juga masih belajar, kok… ^_^
Ya, karena wanita ingin dimengerti… apa artinya ya? Saya wanita dan saya tetap tidak mengerti. Apakah itu berarti harus dijunjung tingginya persamaan gender? Ataukah emansipasi yang selalu dielu-elukan secara berlebihan itu?
Entah sadar atau tidak, persamaan gender takkan pernah terwujud sampai kapanpun. Sifat dasar perempuan dan laki-laki sudah dari sananya berbeda. Perempuan lebih mengandalkan perasaan, sedangkan laki-laki lebih mengandalkan logika. Karena itulah laki-laki yang selalu jadi pemimpin. Apa jadinya sebuah organisasi jika sang pemimpin lebih mengandalkan perasaan ketimbang logika? saya tahu setiap orang punya pendapat yang berbeda tentang ini. Dan itu hal yang lumrah, karena setiap orang juga memandang segala hal dari sudut pandang yang berbeda pula. Tapi di sini, saya mencoba menyikapinya secara netral.
Atas nama persamaan gender, perempuan ditempatkan di posisi yang sama dengan laki-laki dengan porsi tugas yang sama pula. Dengan dalih rasa keadilan, banyak orang menghalalkan semua itu… sekarang, yang jadi pertanyaan, apakah semua itu adil? Coba pikirkan, secara alamiah, perempuan dan laki-laki amat berbeda. Secara fisik, mereka berbeda. Secara perasaan emosional, mereka berbeda. Secara logika dan pemikiran, mereka juga berbeda. Apakah bisa dikatakan adil jika memberikan tugas yang sama pada dua hal yang berbeda? saya rasa tidak. Perempuan dan laki-laki telah memiliki tugasnya masing-masing. Tugas yang secara kodrati sudah sesuai dengan kondisi masing-masing. Lalu, kenapa masih dipertentangkan juga? itulah yang membuat saya bingung.
Banyak sekali orang yang teramat sering mempertentangkan posisi wanita dalam Islam. Menurut mereka, Islam mengebiri kebebasan wanita dan membelenggu wanita di dalam rumah suaminya tanpa diijinkan beraktivitas di luar rumah. Mereka mengatakan bahwa Islam merendahkan posisi wanita di tengah masyarakat. Benarkah demikian?
Mungkin mereka lupa, atau pura-pura lupa. Islam adalah agama pertama yang memuliakan derajat wanita dan mengatur hak-hak wanita sedemikian rupa. Coba kita flashback, bagaimana posisi wanita sebelum Islam datang? Wanita memiliki posisi terendah dalam masyarakat. Bahkan dahulu, setiap bayi perempuan yang lahir, dianggap aib. Sang ayah berada diantara pilihan untuk menanggung aib seumur hidup, atau mengubur bayi perempuannya hidup-hidup.
Setelah Islam datang, pembunuhan atas bayi perempuan dilarang. Wanita yang tadinya tidak punya hak untuk menentukan apapun, tidak diikutkan dalam daftar ahli waris (bahkan wanita diperlakukan seperti barang, sehingga ia bisa diwariskan), diabaikan kesaksiannya, semua budaya jahiliyah itu diobrak-abrik oleh Islam.
Islam maju sebagai tameng bagi wanita. Pengaturan polah dan tingkah laku serta cara berpakaian wanita pun dimaksudkan semata-mata hanya untuk melindungi wanita, bukan untuk membatasinya. Wanita tidak dilarang beraktivitas di luar rumah, asalkan ia memakai hijab yang dikenakan ke seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Hal itu dimaksudkan agar wanita muslim mudah dikenal dan terjaga kehormatannya. Karena itulah Islam melarang wanita untuk pamer aurat, agar mereka terlindungi dari mata jelalatan yang pada jaman sekarang ini merebak di sana sini.
Entah bagaimana konsep pergaulan bebas yang sebebas-bebasnya yang ditawarkan oleh kebanyakan orang saat ini. Bahkan umat muslim pun seolah tak mau ketinggalan dalam menyuarakan emansipasi yang sudah agak kebablasan ini. Wanita yang seharusnya dimuliakan posisinya, saat ini justru jadi barang obralan yang bisa dipertontonkan dimanapun dan kapanpun. Tidak sedikit muslimah yang terjebak dalam lingkaran pergaulan bebas sehingga lebih rela meninggalkan identitasnya sebagai seorang muslimah daripada meninggalkan hingar bingar kebebasan yang menjerumuskan ke maksiat.
Na’udzubillahi min dzalik…
Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari jebakan pergaulan ala barat…
Mungkinkah kuperoleh sayapku kembali?
Tak peduli sepekat apa kubang kefanaan menjerat
Mungkinkah kuperoleh sayapku kembali?
Pada suatu saat yang semu sangat
Demi Dzat yang karena-Nya aku ada
Ada sebuah masa yang tak teraih oleh asa
Selalu dan selalu sama
Tiada tergubah oleh fana
Tapi Tuhan ada
Selalu ada
Menggulirkan semilir kesejukan
Dalam lena ketakkekalan dunia
Tapi Tuhan ada
Selalu ada
Menyiratkan ayat-ayat-Nya selayak lentera
Dalam penerang umat-Nya yang tersesat
Mungkinkah kuperoleh sayapku kembali?
Dan demi Dzat yang karena-Nya aku ada
Selalu disedia jalan acap kali buntu menjulang
Itulah nikmat bagi setiap umat yang bersabar
by. Aoko
February 3rd 2010
8:53 PM
Ketika semilir senja meniup relung-relung mega
Bagai buncah jingga di batas cakrawala
Dalam tarikan lembut pena emas Sang Pencipta
Kuhembuskan syukur dalam indah suasana
Alhamdulillah…
by. Aoko
29 Januari 2010
5.38 PM
Kala jenuh sulit diakhiri
Kala penat melukis wajah ini
Kala langkah mulai terhenti
Dan bahu tak kuasa memikul lagi
Hanya kepada-Nya tempatku kembali
Ketika tiba sepertiga malam
Suara itu memanggilku…
Tak lagi peduli ku pada lelah
Kularung segala dalam sujud
Rabbi… rengkuh aku ke dalam cinta-Mu
Tiada kata…
Dari lisan yang penuh cela
Tiada kuasa…
Dari hati yang penuh noda
Biar seluruh jiwa kupasrahkan
Adakah diri ini peroleh ampunan-Nya?
Saat hijab tiada lagi menghalangi
Ketika segala peluh tak mampu lagi dirintangi
Dan airmata pun tak sanggup terbendung lagi
Kepada-Nya ku berserah diri…
Keremangan batas kalam itu
Menemani seluruh Tahajudku
Akankah kudapat diri ini kembali?
Ya Rabb… kuatkanlah imanku
4 Januari 2010
2.31 PM
Deeply ways to be firm
Stuck in that state
Whatever remains…
No more than a sound
A sound of the emptiness
30 Desember 2009