Tadi malam, salah seorang teman saya meminta saya datang ke acara wisuda teman-teman seangkatan. Tentu saja saya senang mendengarnya. Teman-teman saya akhirnya menyelesaikan studi mereka dan telah lama mengakhiri pertempuran dua jam di depan para penguji skripsi. Kata “Wisuda”, “Yudisium”, dan “Lulus” membuat saya senang bercampur semangat. Tapi, entah mengapa kata-kata itu begitu dalamnya menohok ulu hati saya. Kata-kata itu masih belum pantas diucapkan oleh mahasiswa pemalas yang masih saja berkutat dengan pembuatan instrumen skripsi seperti saya. Ironis.
Miris, memang. Budaya mahasiswa Indonesia yang baru mulai serius mengerjakan sesuatu saat hari-H tinggal sebentar lagi, rupanya begitu mengakar dalam darah daging saya. Dan saya tidak bangga karenanya. Apalagi hal itu muncul saat saya tengah dikejar-kejar orangtua agar lulus cepat. Mengenaskan. Ingin rasanya mengutuk diri saya sendiri. Kebanyakan orang Indonesia terlalu payah untuk bisa bersikap tegas pada diri sendiri, dan saya termasuk di dalam golongan itu. Dan saat ini, saya sedang berjuang keras agar bisa keluar dari golongan itu.
Kembali lagi ke perkara skripsi. Sepertinya saya bakal keluar dana banyak hanya untuk mengetahui uji prasyarat analisis mana yang harus saya gunakan. Untuk uji hipotesis, saya sudah memutuskan untuk menggunakan uji z. Masalahnya, ada dua uji prasyarat analisis yang harus saya lakukan lebih dulu. Uji normalitas dan uji homogenitas. Kabarnya, ada satu lagi uji prasyarat analisis yang harus dilakukan. Berarti totalnya ada tiga uji prasyarat analisis. Saya mencari semua itu di perpustakaan selama berminggu-minggu, tapi tidak menemukan apapun. Baru sekarang, perpustakaan mengecewakan saya. Saya juga tidak bisa mengandalkan skripsi orang lain karena walaupun ada beberapa skripsi yang relevan dengan skripsi saya, semuanya menggunakan uji t. Uji z dan uji t memang mirip, hanya berbeda pada jumlah sampel penelitian saja. Tapi saya tetap tidak bisa mengandalkan asumsi saya dan teman-teman saya bahwa uji prasyarat kedua uji hipotesis itu serupa. Saya butuh bukti konkret dalam bentuk tulisan. Saya bisa saja bertanya pada dosen pembimbing tentang semua itu, tapi saya bukan tipe mahasiswa yang punya nyali besar untuk menghadap dosen pembimbing saat pengetahuan saya masih sangat minim. Itulah salah satu alasan yang membuat saya tidak maju-maju juga dalam perkara skripsi ini.
Alasan lain saya tetap jalan di tempat adalah otak kanan saya, tempat bersarangnya semua imajinasi saya, entah mengapa buntu justru di saat-saat genting seperti ini. Padahal, tanpa otak kanan yang bekerja dengan baik, saya tidak akan mungkin bisa menyelesaikan instrumen skripsi saya. Saya selalu heran, saat tidak sedang dikejar-kejar deadline, aliran darah menuju otak kanan saya lancar selancar aliran air di air terjun, bahkan mengalir deras. Tapi mengapa saat sedang dikejar-kejar waktu yang sedang tidak bersahabat, aliran darah menuju otak kanan saya tersumbat. Dan sumbat itu belum bisa saya keluarkan hingga sekarang. Sial sekali. “Seseorang tolong keluarkan sumbat itu”. Kadangkala saya tidak percaya sudah mengeluarkan kata-kata keputusasaan itu. Hanya bisa merengek minta tolong, tanpa mau berusaha sendiri. Setelah ditolong, malah maido (istilahnya orang jawa) atau dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar disebut “protes karena tidak sesuai kehendak hati”. Selalu berusaha cari aman, tidak mengenal kata “mengambil resiko”. Indonesia sekali. Parah.
Saya sangat bangga menjadi bangsa Indonesia. Tapi, saya tidak bangga memiliki sifat kebanyakan orang Indonesia yang selalu berusaha “mendahului nasib”. Waduh, malah jadi mengutip kata-kata di novel karyanya Bang Andrea Hirata. Maaf, Bang, kata-katanya saya pakai dua petik. Yah, anggap saja tidak apa-apa. Anyway, balik lagi. Yah, saya hanya tidak ingin berpikiran dangkal dan hanya bisa melihat satu langkah saja di depan saya. Saya ingin bisa melihat dua atau tiga langkah ke depan. Dan saya mulai membiasakan hal itu. Mungkin kebanyakan main igo yang mengharuskan membaca langkah lawan dua atau tiga langkah ke depan, membuat saya mulai terbiasa belajar untuk membaca kehidupan ya?
Mengapa malah jadi membicarakan igo ya? Ya sudahlah, intinya saya ingin membuang jauh-jauh sifat-sifat yang selalu membuat saya dalam posisi terjepit itu. Saya ingin tegas pada diri saya sendiri. Saya pernah mendengar seseorang mengatakan begini, “Jika kita lunak pada diri kita sendiri, kehidupan akan keras pada kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, kehidupan akan lunak pada kita”. Saya lupa siapa yang mengatakannya. Tapi, siapapun itu… aye, Sir. Akan saya coba. Hee… polosnya, mudah sekali ya termakan kata-kata bagus dari orang lain. Tapi tak apa, asalkan manjur. Tragis.
Komentar Terakhir