20
Agu

Puncak Stress Mahasiswa : Skripsi?

Tadi malam, salah seorang teman saya meminta saya datang ke acara wisuda teman-teman seangkatan. Tentu saja saya senang mendengarnya. Teman-teman saya akhirnya menyelesaikan studi mereka dan telah lama mengakhiri pertempuran dua jam di depan para penguji skripsi. Kata “Wisuda”, “Yudisium”, dan “Lulus” membuat saya senang bercampur semangat. Tapi, entah mengapa kata-kata itu begitu dalamnya menohok ulu hati saya. Kata-kata itu masih belum pantas diucapkan oleh mahasiswa pemalas yang masih saja berkutat dengan pembuatan instrumen skripsi seperti saya. Ironis.

Miris, memang. Budaya mahasiswa Indonesia yang baru mulai serius mengerjakan sesuatu saat hari-H tinggal sebentar lagi, rupanya begitu mengakar dalam darah daging saya. Dan saya tidak bangga karenanya. Apalagi hal itu muncul saat saya tengah dikejar-kejar orangtua agar lulus cepat. Mengenaskan. Ingin rasanya mengutuk diri saya sendiri. Kebanyakan orang Indonesia terlalu payah untuk bisa bersikap tegas pada diri sendiri, dan saya termasuk di dalam golongan itu. Dan saat ini, saya sedang berjuang keras agar bisa keluar dari golongan itu.

Kembali lagi ke perkara skripsi. Sepertinya saya bakal keluar dana banyak hanya untuk mengetahui uji prasyarat analisis mana yang harus saya gunakan. Untuk uji hipotesis, saya sudah memutuskan untuk menggunakan uji z. Masalahnya, ada dua uji prasyarat analisis yang harus saya lakukan lebih dulu. Uji normalitas dan uji homogenitas. Kabarnya, ada satu lagi uji prasyarat analisis yang harus dilakukan. Berarti totalnya ada tiga uji prasyarat analisis. Saya mencari semua itu di perpustakaan selama berminggu-minggu, tapi tidak menemukan apapun. Baru sekarang, perpustakaan mengecewakan saya. Saya juga tidak bisa mengandalkan skripsi orang lain karena walaupun ada beberapa skripsi yang relevan dengan skripsi saya, semuanya menggunakan uji t. Uji z dan uji t memang mirip, hanya berbeda pada jumlah sampel penelitian saja. Tapi saya tetap tidak bisa mengandalkan asumsi saya dan teman-teman saya bahwa uji prasyarat kedua uji hipotesis itu serupa. Saya butuh bukti konkret dalam bentuk tulisan. Saya bisa saja bertanya pada dosen pembimbing tentang semua itu, tapi saya bukan tipe mahasiswa yang punya nyali besar untuk menghadap dosen pembimbing saat pengetahuan saya masih sangat minim. Itulah salah satu alasan yang membuat saya tidak maju-maju juga dalam perkara skripsi ini.

Alasan lain saya tetap jalan di tempat adalah otak kanan saya, tempat bersarangnya semua imajinasi saya, entah mengapa buntu justru di saat-saat genting seperti ini. Padahal, tanpa otak kanan yang bekerja dengan baik, saya tidak akan mungkin bisa menyelesaikan instrumen skripsi saya. Saya selalu heran, saat tidak sedang dikejar-kejar deadline, aliran darah menuju otak kanan saya lancar selancar aliran air di air terjun, bahkan mengalir deras. Tapi mengapa saat sedang dikejar-kejar waktu yang sedang tidak bersahabat, aliran darah menuju otak kanan saya tersumbat. Dan sumbat itu belum bisa saya keluarkan hingga sekarang. Sial sekali. “Seseorang tolong keluarkan sumbat itu”. Kadangkala saya tidak percaya sudah mengeluarkan kata-kata keputusasaan itu. Hanya bisa merengek minta tolong, tanpa mau berusaha sendiri. Setelah ditolong, malah maido (istilahnya orang jawa) atau dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar disebut “protes karena tidak sesuai kehendak hati”. Selalu berusaha cari aman, tidak mengenal kata “mengambil resiko”. Indonesia sekali. Parah.

Saya sangat bangga menjadi bangsa Indonesia. Tapi, saya tidak bangga memiliki sifat kebanyakan orang Indonesia yang selalu berusaha “mendahului nasib”. Waduh, malah jadi mengutip kata-kata di novel karyanya Bang Andrea Hirata. Maaf, Bang, kata-katanya saya pakai dua petik. Yah, anggap saja tidak apa-apa. Anyway, balik lagi. Yah, saya hanya tidak ingin berpikiran dangkal dan hanya bisa melihat satu langkah saja di depan saya. Saya ingin bisa melihat dua atau tiga langkah ke depan. Dan saya mulai membiasakan hal itu. Mungkin kebanyakan main igo yang mengharuskan membaca langkah lawan dua atau tiga langkah ke depan, membuat saya mulai terbiasa belajar untuk membaca kehidupan ya?

Mengapa malah jadi membicarakan igo ya? Ya sudahlah, intinya saya ingin membuang jauh-jauh sifat-sifat yang selalu membuat saya dalam posisi terjepit itu. Saya ingin tegas pada diri saya sendiri. Saya pernah mendengar seseorang mengatakan begini, “Jika kita lunak pada diri kita sendiri, kehidupan akan keras pada kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, kehidupan akan lunak pada kita”. Saya lupa siapa yang mengatakannya. Tapi, siapapun itu… aye, Sir. Akan saya coba. Hee… polosnya, mudah sekali ya termakan kata-kata bagus dari orang lain. Tapi tak apa, asalkan manjur. Tragis.

19
Agu

Guru, Sebuah Pengabdian

Bicara tentang sebuah profesi yang bernama guru, mengingatkan saya akan penolakan saya sendiri terhadap profesi ini empat tahun yang lalu. Sebuah profesi yang saya hindari mati-matian. Dan berharap putus asa agar saya gagal saat SPMB. Dengan begitu, jalan untuk masuk ke dalam dunia animasi yang selalu saya cita-citakan sejak masih kecil, akan terbuka lebar. Tapi, nasib berkata lain. Saat hari pengumuman hasil SPMB telah tiba, ayah saya datang kepada saya membawa sebuah Koran diiringi oleh bunyi detak jantung saya yang semakin cepat. Ekspresi beliau begitu lega. Rasa syukur terpancar dari mata beliau, sebuah pertanda buruk.

Saya selidiki lembar demi lembar dengan cermat. Lalu, pandangan mata saya terhenti di kolom calon mahasiswa yang diterima di Jurdik Matematika, tidak ada. Saya menghela nafas lega. Saat saya memindahkan perhatian ke kolom Jurdik Fisika, semua isi perut saya jungkir balik. Saya tidak percaya. Seolah jantung saya mau meloncat keluar. Harapan saya runtuh seketika bersamaan dengan saat dimana saya melihat nama saya sendiri terpampang di Koran itu. Hari itu berubah menjadi mimpi buruk. Sayangnya, itu bukan mimpi, melainkan kenyataan. Sungguh, tak pernah sedetik pun saya membayangkan akan berkiprah di dunia pendidikan.

Tapi, disinilah saya. Saya rasa, saya perlu berterimakasih pada dua buah novel yang begitu inspiratif karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, yang pertama kalinya membuka mata saya tentang essensi sebenarnya menjadi seorang guru. Sejak saat itulah saya bangga menjadi seorang calon guru. Saya berhenti mengutuk hidup saya sendiri. Saya mulai memahami bahwa menjadi seorang pendidik bukanlah sesuatu yang salah. Dan menempuh jalan di bidang pendidikan, tidak akan menghancurkan hidup saya.

Hal itu semakin dikukuhkan saat saya mulai PPL di sebuah SMA swasta di daerah Sleman. Saya mulai bisa merasakan seperti apa rasanya menjadi seorang guru. Dan saya mulai menyadari satu hal. Ada sebuah kenikmatan tersendiri saat mengajar di depan kelas, juga saat berinteraksi dengan siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Ada banyak hal yang saya pahami dari profesi ini berkat kedua novel tersebut.

Guru adalah sebuah kata yang begitu sarat makna akan sebuah pengabdian. Guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, bukannya tanpa sebab. Kesediaan menjadi guru, berarti juga kesediaan untuk memberikan segenap jiwa dan raga demi mencerdaskan generasi muda bangsa. Seorang guru yang sesungguhnya, tidak akan pernah sekali-kali memikirkan tentang mengejar harta. Mungkin, ada segelintir orang yang menjadi guru karena tergoda oleh tunjangan pensiun dan kenyamanan finansial. Tapi, bukan itu inti sebenarnya.

Tidak sedikit guru yang hidup pas-pasan, bahkan melarat. Bahkan demi menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi, mereka harus mencari utang di sana sini. Namun, mereka tetap survive. Mereka tetap bertahan dengan kehidupan seperti itu.

Dulu, saya yang masih belum tahu apa-apa, yang masih berpikiran hitam-putih, seringkali bertanya-tanya kenapa orang-orang kepingin jadi guru. Padahal, guru bukanlah pekerjaan yang berpenghasilan besar. Tipe pekerjaan yang terkadang, untuk bikin perut kenyang saja susah. Bahkan, masih ada saja guru yang kerja serabutan karena perekonomian keluarga yang “lebih besar pasak daripada tiang”. Guru juga bukan sebuah pekerjaan yang bisa dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang tergolong “elite”. Coba saja, anak-anak jaman sekarang ditanya cita-cita mereka saat sudah dewasa. Hanya sedikit yang menjawab “ingin jadi guru”.
Memang, saat masih kecil, saya pun tidak bercita-cita menjadi guru. Bukan karena saya berpikir bahwa guru adalah tipe pekerjaan yang telah saya sebutkan di atas, melainkan karena saya lebih menyukai bidang lain. Hanya itu.

Namun, setelah saya menapaki dunia pendidikan, saya menemukan jawaban kenapa orang-orang ingin jadi guru. Ini bukan hasil penelitian, bukan pula hasil survey, hanya berdasarkan pengamatan saya saja. Pertama, guru adalah pekerjaan yang mulia. Kedua, seorang guru lebih dihargai di masyarakat. Ketiga, ingin menyalurkan ilmu yang telah didapat kepada orang lain. Keempat, dari segi kemampuan dan dana, calon mahasiswa hanya bisa menjangkau untuk kuliah di bidang pendidikan. Kelima, tunjangan hari tua (saya agak miris menyampaikan ini). Keenam, meneruskan jejak keluarga dan mewujudkan cita-cita orangtua yang ingin anaknya jadi guru (termasuk saya). Terakhir, suka anak-anak dan guru adalah profesi yang terlibat dalam perkembangan anak-anak.

Saya bisa merangkum pengamatan saya itu dalam tujuh hal di atas. Tentu saja, bisa benar, bisa juga tidak. Pengamatan tiap orang kan beda-beda. Tapi, walau sulit saya tetap ingin jadi guru. Karena saya menikmati saat-saat berinteraksi dengan siswa. Tentu saja menjadi guru bukan hanya masalah menyampaikan informasi saja, melainkan juga masalah bagaimana mendidik siswa menjadi pribadi yang bisa diterima di masyarakat. Itulah kesenangan dan kenikmatan menjadi guru.

Semoga para guru dewasa ini tidak terbebani dengan pekerjaan mereka. Jika seorang guru benar-benar menikmati saat-saat dia berinteraksi dengan siswa dalam suatu kegiatan pembelajaran, dia akan menemukan makna sebuah pengabdian seorang guru. Tanpa guru, mau jadi apa generasi muda bangsa ini?

Jadi, teruntuk para guru di seluruh penjuru tanah air, berbanggalah dan bersyukurlah… Sebab, guru adalah pahlawan bangsa yang berjuang dengan pengabdiannya kepada Negara.

16
Jun

Buat Aku Terjaga

Awal yang muram untuk membuka hari
Sesuram sketsa abstrak terakhir yang kubuat
Entah pada apa ku menjejak
Tak ada bekas yang pasti dalam remang-remang kehidupan

Mana matahari?
Pagi yang sepekat kubangan tinta kelabu
Tanpa menjatuhkan tangisnya setetespun
Yang melumuri bumi dengan bayang-bayang sekarat
Hanya bisa membuatku membeku di ladang kemalasan

Mana angin hangat?
Hanya tertebar milyaran atom es di nusa
Tak terlihat, tak terdengar, bahkan tak sadar sedalam apa ia merasuk
Menghujamkan jutaan massa di kelopakku
Memerah-pekatkan korneaku hingga tak kukenali lagi
Meringkukkanku dalam mimpi yang sesak

Kebekuan yang menusuk ini…
Hanya membuatku terkapar tak berdaya
Aku tidak butuh
Hapus saja kelabu dari cakrawala

Berikan aku matahari
Agar bisa memaksaku bangun dari tahta kemalasanku
Berikan aku angin hangat
Agar bisa menghempaskan jutaan massa yang menimbun kelopakku

Hingga ku bisa melangkah
Mengiringi sang waktu…

by. Aoko
16 Juni 2009
10:51 AM

24
Mar

Angin

Hawa gersang menggelepar jalanan
Melambai menjerat siapa yang lewat
Hanya sebatas angin itu tersisa
meniupkan roh sasar ke segala arah

Kami hidup diantaranya
Ia hidup diantara kami
Tapi ia bebas…
Dan mengikat kami dalam belenggu bernama ‘nafas’

Kami ada karena ia ada
Andai ia hilang, kami lenyap bersamanya

Sehelainya kami hirup
Sedikit demi sedikit
Tanpa pernah habis

Angin memberi kami kehidupan
Juga memberi kami kematian
Kami datang dan pergi kapan saja
Tapi angin…
Selamanya ia selalu ada
Bebas dan selalu ada

by Aoko
Menunggu jam kuliah, Ruang D3. 203 FMIPA UNY
Senin, 23 Maret 2009

24
Mar

Gerimis

Hari ini…
Gerimis enggan menemuiku
Entah terhalang oleh apa
Apakah matahari telah menguapkannya?
Ataukah mendung yang terlalu berat untuk melepasnya?

Masa kecil yang barusan melintas sambil lalu
Menyingkap kenangan akan kebebasan
Merinduku akannya

Aku biasa menyambut dan memeluknya bagai kawan lama
Bermain-main dengannya dan sesekali
Bekas-bekasnya muncrat oleh kaki kecilku
Saat kupijak kaki di genangan kecil peraduannya

Tapi, dewasa itu telah menjemputku
Kutinggalkan sesosok mungil yang mirip aku itu
Kulihat ia sedang bercanda tawa bersamanya
Dia adalah aku, tapi aku bukan dia lagi
Tiada tempat bagiku saat ini dan seterusnya

Kini…
Kuringkukkan tubuh payah ini di pojok kamar
Hanya itu
Kupandang dari balik terali besi
Lewat kaca jendela
Tanpa bisa menyentuhnya

Karena itukah gerimis enggan menemuiku?

oleh Aoko
Minggu kelabu, mendung tanpa hujan
8 Februari 2009

01
Jan

Rasa yang Ragu

Sebuah nama, sebuah perasaan…

Saat akhir malam semakin dekat merayap

Sekelebat datang dan pergi tanpa sapa

Ia yang selalu melesat bagai anak panah

Apa yang membuatnya terhenti?

Papan target belumlah tercapai

Kenapa Ia terhenti?

Kesah dan resah yang selalu hadir di sini…

Terusir begitu saja olehnya

Dia datang

Bagaimanapun badai menerpa

Bagaimanapun hujan melebat

Dia tetap datang

Kini, semua itu berdebam menderaku

Saat sesosok tanya menuntut jawabku

“Akankah ada sesal yang terlintas?”

Aku tak tahu…

Jawab itu

Sesuatu yang tak pernah bisa kuberikan

29
Des

Pesan untuk Semua

Pada saat kita dipisahkan oleh waktu, itulah akhir kisah kita
Tapi, akhir dari sebuah kisah merupakan awal dari sebuah kisah baru
Kisah baru kita telah dimulai, kawan
Mari kita mulai kisah kita dengan indahnya persahabatan
Kita tahu, Setiap insan memiliki perbedaan
Tapi, selama kita bisa saling menghargai perbedaan masing-masing…
Akan terjalin persahabatan yang indah di masa depan
Ingatlah kawan, persahabatan bukanlah sebuah kata kosong
Persahabatan menyiratkan beribu makna
Jangan pernah lupakan itu
Memiliki seorang sahabat sejati jauh lebih berarti…
Daripada memiliki seribu teman yang mementingkan diri sendiri
Sangat beruntung orang yang bisa mendapatkan seorang sahabat
Tapi ada juga orang yang begitu hancur karena dikhianati oleh sahabat
Jika kita memiliki seorang sahabat sejati…jagalah ia
Jagalah hatinya…
Jagalah persahabatan kalian

by. Aoko

29
Des

Irene Adler

Hanya ada satu orang yang pernah mengalahkan Sherlock Holmes, dia adalah Irene Adler. Irene Adler adalah seorang wanita yang amat cantik yang dapat membuat Sang Detektif Kondang seperti Sherlock Holmes tak akan bisa melupakannya.

Namun, sayang sekali kemunculan Irene hanya satu kali, yaitu pada kasus Skandal di Bohemia. Pada kasus kali ini, Raja dari Bohemia yang dulunya adalah kekasih Irene meminta jasa Holmes untuk mengambil fotonya bersama dengan Irene terkait dengan pernikahannya dengan putri Raja Skandinavia. Penyelesaian akhir, Holmes gagal mendapatkan foto itu…namun dia mendapat gantinya, yaitu foto Irene Adler (sekarang Irene Norton karena dia menikah dengan seorang pengacara bernama Godfrey Norton) yang sedang memakai gaun malam.

Sedangkan pada Anime Detektif Conan, di Detektif Conan The Movie 6–The Phantom of Baker Street– Irene digambarkan dengan satu-satunya wanita yang amat dicintai Holmes, sehingga membuat Prof. Moriarty menyuruh Jack The Ripper untuk membom teater tempat Irene bernyanyi. dalam hal ini, aku merasa Aoyama Gosho ingin menegaskan bahwa diantara mereka terdapat suatu hubungan yang khusus.

Dan aku juga merasa Holmes lebih baik ketimbang Norton. Walau begitu, pada faktanya Irene telah menjadi Nyonya Norton. Irene adalah wanita yang sangat cocok dengan pribadi Holmes yang tak bisa ditebak itu. Bahkan Raja Bohemia mengatakan bahwa dia cocok untuk menjadi seorang Ratu, hanya saja status mereka sangat berbeda jauh.

Di Anime Detektif Conan, di volume 12, juga terjadi sebuah pembunuhan oleh karena Irene Adler. Hebat betul wanita ini, walaupun hanya tokoh fiktif namun bisa menjadi motif orang untuk membunuh. Tapi, sudah barang tentu Conan dapat mengungkap siapa pelaku sebenarnya.

Sampai sekarang, aku masih sangat mengagumi wanita yang mampu mengalahkan Holmes ini. Dia betul-betul tak terduga.

05
Des

Kedamaian, Akankah Ia Terbangun?

Sebuah rangkai kata ini ingin kuungkap ke permukaan. Saat dunia butuh sentuhan arti kehidupan, saat-saat seperti itulah kita dibutuhkan. Aku tak mengerti kenapa teramat banyak orang terlunta-lunta dengan hidup mereka sendiri. Aku juga tak mengerti kenapa ada orang yang membuang hidupnya sementara yang lain memperjuangkannya. Setiap untaian nama, memiliki ceritanya masing-masing. Akankah cerita-cerita itu bertemu dan saling merangkai satu sama lain? tentu saja, sebab kita tidak sendirian. Apa yang membuat cerita-cerita itu saling merangkai? pada akhirnya, jawabannya hanya satu, cinta… cinta kasih pada sesama. Itulah kekuatan paling dasar yang merangkai seluruh kehidupan semesta.

Namun, aku tak mengerti kenapa masih saja banyak terjadi perpecahan di dunia ini? pertengkaran, perkelahian, tawuran, sampai perang pun ada. Apakah cinta di dunia ini tak cukup untuk meredam itu semua? ataukah orang-orang terlalu egois untuk bisa menyadari kekuatan cinta?

Dapatkah cinta menyatukan dunia di bawah panji-panji perdamaian? entahlah… kita takkan tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bukan? Tapi, satu yang pasti. Aku tak menginginkan pengikisan ataupun penghancuran, itu bencana besar kalau sampai terjadi. Aku hanya mengharapkan keberadaan, keberadaan setiap umat manusia, tanpa ada kesakitan, tanpa ada ketersiksaan. Akankah di suatu hari kelak kedamaian akan terbangun dari tidur panjangnya, dan berdiri tegak untuk menaungi semesta ini? Ya, itu adalah harapan. Tak ada yang salah dengan harapan. Selama ada harapan, seseorang bisa terus berjuang untuk sesuatu yang ia yakini…

Aku ingin sekali membangunkan kedamaian dari tidurnya…

08
Nop

Pentingnya Media Pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar di Kelas

Secara historis, pendidikan dalam arti luas telah mulai dilaksanakan sejak manusia berada di muka bumi ini. Seiring dengan berkembangnya peradaban manusia, semakin berkembang pula bentuk, isi, dan permasalahan dalam pendidikan. Sehingga menuntut manusia untuk terus memajukan pola pikir yang sistematis tentang pendidikan.
Pendidikan, sebagaimana tercantum dalam UU RI No. 20 Tahun 2003, merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan berusaha untuk mengembangkan peserta didik agar mampu berdiri sendiri. Untuk itu peserta didik harus mampu berkembang dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Perkembangan peserta didik sendiri tak lepas dari peran seorang pendidik, dalam hal ini adalah guru. Para peserta didik tidak mungkin dapat belajar sendiri tanpa panduan seorang guru. Walaupun dewasa ini metode CBSA yang berpusat pada peserta didik telah banyak diterapkan dalam pendidikan di Indonesia, namun guru tetap menempati kedudukan tersendiri. Peserta didik hanya mampu belajar dengan baik jika guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Guru merupakan fasilitator bagi peserta didik. Untuk membantu belajar peserta didik, guru perlu pandai memilah dan memilih media yang digunakan dalam pembelajaran. Terutama dalam mata pelajaran IPA pada umumnya dan Fisika pada khususnya, peserta didik cenderung menunjukkan ketidaktertarikannya. Dengan adanya media pengajaran dalam pembelajaran fisika, diharapkan dapat mendorong peserta didik agar tertarik untuk mempelajari fisika. Berawal dari rasa tertarik itulah, motivasi belajar peserta didik dapat muncul. Sehingga peserta didik pun dapat lebih mudah memahami materi yang diajarkan.
Namun, dalam realita pengajaran fisika dewasa ini, guru masih banyak menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi. Proses belajar mengajar yang seperti itulah yang akan membuat peserta didik jenuh dan kehilangan motivasi belajar yang akan mengakibatkan hasil belajarnya rendah. Selain itu, guru juga jarang sekali menggunakan media pengajaran dalam pembelajaran fisika. Kalaupun ada, media itu hanyalah berupa buku paket pelajaran fisika. Pengetahuan guru tentang media pembelajaran yang baik untuk menunjang proses belajar mengajar di kelas sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya motivasi belajar fisika peserta didik. Semakin bervariasinya pengetahuan guru tentang media pembelajaran, diharapkan akan semakin meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Tentu saja, hal itu berarti tidak bisa tidak, media pembelajaran perlu digunakan di dalam kelas. Mengurangi kejenuhan peserta didik, mutlak diperlukan oleh guru. Itulah manfaat dari media pembelajaran. Tentu saja guru pun harus selektif dalam menggunakan media pembelajaran mana yang paling tepat untuk diterapkan di dalam kelas.
Apakah hal itu ada pengaruhnya? Bukankah media pembelajaran manapun dapat diterapkan di dalam kelas? Ya, tentu saja ada pengaruhnya. Dan perlu diingat bahwa kelas yang satu dengan kelas yang lain tidaklah sama. Jadi, bila suatu media pembelajaran dapat dengan efektif diterapkan di satu kelas, belum tentu di kelas lain efektif. Lah, lalu bagaimana cara mengatasinya? Dalam hal ini, peran guru sangatlah vital dalam pemilihan media pembelajaran karena hanya guru yang mampu untuk mengenali karakteristik kelas yang dia ajar. Karakteristik setiap kelas pasti berbeda. Jika guru mampu menemukan perbedaan itu dan dapat memilih media pembelajaran mana yang dapat diterapkan pada setiap kelas yang berbeda, hal itu akan sangat membantu dalam menciptakan proses belajar mengajar yang efektif.



Lovely Quote

Komentar Terakhir

 

Agustus 2009
M S S R K J S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

cbox