04
Feb

Tapi Tuhan Ada

Mungkinkah kuperoleh sayapku kembali?
Tak peduli sepekat apa kubang kefanaan menjerat
Mungkinkah kuperoleh sayapku kembali?
Pada suatu saat yang semu sangat

Demi Dzat yang karena-Nya aku ada
Ada sebuah masa yang tak teraih oleh asa
Selalu dan selalu sama
Tiada tergubah oleh fana

Tapi Tuhan ada
Selalu ada
Menggulirkan semilir kesejukan
Dalam lena ketakkekalan dunia

Tapi Tuhan ada
Selalu ada
Menyiratkan ayat-ayat-Nya selayak lentera
Dalam penerang umat-Nya yang tersesat

Mungkinkah kuperoleh sayapku kembali?
Dan demi Dzat yang karena-Nya aku ada
Selalu disedia jalan acap kali buntu menjulang
Itulah nikmat bagi setiap umat yang bersabar

by. Aoko
February 3rd 2010
8:53 PM

04
Feb

Senja

Ketika semilir senja meniup relung-relung mega
Bagai buncah jingga di batas cakrawala
Dalam tarikan lembut pena emas Sang Pencipta
Kuhembuskan syukur dalam indah suasana

Alhamdulillah…

by. Aoko
29 Januari 2010
5.38 PM

04
Feb

Ketika Tahajud Memanggil…

Kala jenuh sulit diakhiri
Kala penat melukis wajah ini
Kala langkah mulai terhenti
Dan bahu tak kuasa memikul lagi
Hanya kepada-Nya tempatku kembali

Ketika tiba sepertiga malam
Suara itu memanggilku…
Tak lagi peduli ku pada lelah
Kularung segala dalam sujud
Rabbi… rengkuh aku ke dalam cinta-Mu

Tiada kata…
Dari lisan yang penuh cela
Tiada kuasa…
Dari hati yang penuh noda
Biar seluruh jiwa kupasrahkan
Adakah diri ini peroleh ampunan-Nya?

Saat hijab tiada lagi menghalangi
Ketika segala peluh tak mampu lagi dirintangi
Dan airmata pun tak sanggup terbendung lagi
Kepada-Nya ku berserah diri…

Keremangan batas kalam itu
Menemani seluruh Tahajudku
Akankah kudapat diri ini kembali?
Ya Rabb… kuatkanlah imanku

4 Januari 2010
2.31 PM

04
Feb

The Sound

Deeply ways to be firm
Stuck in that state
Whatever remains…
No more than a sound
A sound of the emptiness

30 Desember 2009

04
Feb

Teguh

Angin akan datang menerpa
Hujan akan turun menimpa
Guntur akan ribut mencerca

Tapi, lihatlah…
Aku akan masih tetap berdiri
Teguh bagai Beringin di pertigaan
Hingga musim bosan berganti

29 Desember 2009

04
Feb

Tanganmu pada Alam

Ronta alam dalam pelukan tanganmu
Berbisik demi tiap luruhnya
Tak lagi seelok lampau
Hijau itu telah lenyap terusir kelabu

Daun tak lagi riang gemerisik
Sekali lagi.
Tanganmu datang beserta perihal
Tanpa menyisakan jawaban

Biar tanganmu datang beserta sesal
Tiada dapat menawar waktu
Biar tanganmu datang beserta tindak
Berjuta keping kejadian hilang
Tiada dapat terantai satu

Tanah perawan yang ternoda
Tiada balik lagi murninya
Dan itu musabab
Tanganmu pada Alam

by. Aoko
1 Oktober 2009
08.33 AM

04
Feb

Renungku Atas Cinta-Mu

Kau adalah gerimis
Jatuh perlahan dalam kerontang duniaku
Hangat.
Kau adalah gerimis
Deras. Guyuri bandang hati ini

Tak ayal kupersalah lagi
Kau yang tak harap ada
Diturunkan syahdu haribaan-Nya

Jutaan bulir embun terjelma
Masih dan tetap sama
Tak lagi kupahami
Adakah Tuhan kan menjawab?

Nanar kau kutatap
Tuhan diam. Kau membisu.
Sia-sia.
Pekikan hati yang mengiris telingaku
Tak lekat setitikpun di telagamu

Renung dalam relung ku mohonkan

“Tuhan, bunuh hati ini…
jika hanya zina yang tercipta
Tuhan, bunuh rindu ini…
jika hanya akan mengubur rinduku pada-Mu
Tuhan, jauhkan dia…
tapi jangan jauhkanku dari-Mu
Tuhan, sungguh ku lebih rela
kehilangan cinta kepadanya daripada cinta kepada-Mu”

Simakkah kau, Cinta?
Jelang fajar. Jelang benam. Kuhaturkan itu.
Tapi batu nian kepalamu
Tetap di sini kau ada

Lagi.
Tuhan diam. Kau membisu.
Cinta, tumpanganmu di hati kan kuakhiri
Hingga ku bisa memulai bersama Sang Pemberi Cinta
Adakah Tuhan kan menjawab?
Adakah kau kan menjawab?

Sia-sia.
Hanya hembus angin jawabnya
Sunyi. Juga perih
Masih dan tetap sama
Tragis…

Tapi, kaulah kehidupan
Titipan Sang Pemilik hati manusia
Masih. Kurenung dalam sujudku

“Tuhan, tunjukkan kehendak-Mu…
Enggankah Kau membunuh rasa yang terus menikamku ini, Tuhan?
Ataukah proses tuk kujaga hati ini, kehendak-Mu?
Jika begitu adanya, beriku kekuatan, Tuhan…
Agar ku tak terjebak dalam cinta yang bukan karena-Mu”

Desah sejuk Tuhan hembuskan
Dengarkah kau, Cinta?
Tetaplah di sini
Pergimu kan buat leburku

I luv u, Cinta
But I much more loving The Owner of The Greatest Love

by. Aoko
4 September 2009
9.12 PM

04
Feb

Rasa

Rasa… Rasa yang datang dari hangat jemarinya
Mengalirkan energi ke setiap atomku
Rasa… Rasa yang terbit tanpa pernah terbenam
Menyergap dalam keremangan senja

Rasa yang seenaknya menjejal ke lubuk jiwa
Hanya diam dan mencengkeram kuat
Dan memberi luka yang tak bisa dihilangkan
Seolah memohon agar tidak dilepaskan

Khayal yang lebih terasa nyata dibanding apapun
Kesakitan yang membaur bersama kebahagiaan
Sejati tapi juga semu
Pada akhirnya, hanya satu rasa yang tersisa

Hampa…

Rasakah itu?

by. Aoko
May, 16th 2009
10.03 PM
I’m hiding from that look, it’s pathetic.

04
Feb

Obrolan Amatir Para Pembelajar Bodoh tentang Agama (Chapter 1)

Kalau dipikir-pikir, manusia itu gampang lupa ya? Juga gampang terombang-ambing situasi. Contohnya saja umat Islam, banyak kan yang tersesat dalam agamanya sendiri? Banyak kan yang gak paham ajaran agamanya sendiri? Bahkan ada juga yang pengetahuannya hanya setengah-setengah dan bolong di sana sini. Yah, termasuk aku juga sih…
Situasi kita sama kok. Saat ini kan kita tengah mempelajari lebih dalam tentang agama kita, iya gak? Walaupun terseok-seok, Allah SWT pasti akan selalu kasih jalan untuk umat-Nya yang senantiasa bersungguh-sungguh memperdalam ilmu, terutama ilmu agama.

Hei, pertanyaanku tadi gimana?
Yang mana?

Malah balik nanya. Yang ini : Kenapa banyak umat Islam yang tersesat dalam agamanya sendiri?
Oooh… yang itu. Sederhana saja. Pada dasarnya, mereka terlalu dilenakan oleh nikmat dunia.

Hoo… Terus?
Coba pikirkan! Memangnya dunia itu kekal? Tidak, kan? Dunia itu ibaratnya adalah tempat singgah sementara sebelum kita menempati tempat sesungguhnya di akhirat sana. Entah itu surga, entah itu neraka… tinggal pilih.
Tapi, banyak sekali umat-Nya yang terjebak dalam kefanaan dunia ini. Hayo, nggak usah ngelak… Yang kubilang itu benar, kan?

Yah, mana bisa mungkir? Memang kenyataannya sekarang sudah seperti itu… Kamu sendiri ngomong begitu, memangnya kamu orang suci yang gak punya salah?
Siapa bilang? Justru aku bisa bilang seperti itu, karena saat ini pun aku sedang berjuang keras keluar dari jebakan dunia fana ini. Memang sangat sulit, tapi bukannya tidak mungkin.

Memang bukan tidak mungkin, sih. Tapi, kalau boleh milih, aku gak mau masuk neraka. Walaupun begitu, aku juga bukan hamba-Nya yang baik. Lalu, gimana?
Memang benar… bahkan aku sendiri tidak merasa pantas masuk surga. Jadi, jalan satu-satunya hanyalah, buatlah dirimu pantas menjadi ahli surga.

Caranya?
Jalanilah hidup di dunia yang sementara ini dengan tetap berpedoman pada Kalamullah dan Sunnah Rasul. Jadi, punya Al-Qur’an itu jangan cuma dibaca dan dipelajari doang, tapi juga diresapi dalam hati dan direalisasikan dalam perbuatan. Baru deh, komplit.

Hei, praktek itu gak segampang teori. Apa buktinya kalau orang yang paham agama itu bener-bener merealisasikan apa yang diajarkan oleh agama? Banyak kan contohnya? Orang-orang berkoar-koar agar umat Islam menjalankan segala yang diajarkan agama. Tapi, buktinya orang-orang itu malah ngelanggar juga kan?
Tahu darimana? Jangan menilai sembarangan, ah. Memangnya punya hak apa kamu menilai orang lain? Apa kamu yakin bahwa dirimu lebih baik dari mereka? Hanya Allah SWT yang tahu kadar amal seseorang, dan hanya Ia yang berhak menilai. Bisa jadi orang yang kita anggap orang yang tidak baik, tapi justru posisinya lebih mulia dibanding kita di sisi Allah SWT.
Ingat gak kata pepatah? Semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tidak tampak. Itulah akibatnya jika kita terlalu sering mencari-cari kesalahan orang lain, kita jadi tidak menyadari kesalahan kita sendiri.

Jadi, saranmu?
Daripada sibuk mencela dan mengintropeksi orang lain, lebih baik intropeksi diri sendiri dulu. Apa jaminan bahwa kamu lebih baik dari orang lain? Apa pula jaminan bahwa orang lain lebih buruk dari kamu?

Tapi, ada kok orang yang memang berbuat buruk. Kan faktanya banyak beredar di masyarakat.
Hush! Harus berapa kali sih kubilang? Jangan membicarakan keburukan orang lain. Iya, kalau benar, kalau salah? Itu namanya fitnah. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.

Kalau keburukan orang lain yang dibicarakan itu benar?
Itu namanya ghibah. Banyak lho umat Islam yang sadar ato gak sadar sudah melakukan ghibah, terutama cewek. Bahaya banget. Bahkan ghibah itu diumpamakan dengan “memakan bangkai saudara sendiri”.

Ih, kok ngeri sih… Tapi, gimanapun juga sulit lho buat menghindar dari ghibah. Contohnya aja, klo ngumpul sama temen-temen, kita ini kan sebenernya gak jauh-jauh amat dari ghibah. Bahkan waktu rapat di karangtaruna aja gak ada bedanya. Awalnya emang ngomongin yang serius, tapi waktu tiba saat istirahat, tetep aja ujung-ujungnya ke ghibah, kan?
Ya, aku juga sependapat. Kalau mau menjauhi ghibah, ada beberapa cara sih. Pertama, kalau udah ada tanda-tanda bahwa temen-temen kamu mau ngghibah, tegur aja. Kalau gak mempan, alihkan pembicaraan mereka. Kalau gak mempan juga, berusahalah buat gak ngedengerin, apalagi menanggapi… sama aja bohong. Kalau kamu merasa bahwa usaha buat gak ngedengerin mereka itu gagal (berhubung mereka mengghibah dengan suara keras, sehingga walaupun nutup kuping juga tetep kedengaran), udah deh, gak pake kompromi, tinggalin aja.

Tapi, nanti kalau mereka kutinggal begitu aja, mereka bisa marah dan aku dicuekin.
Lebih takut mana? Kemarahan mereka atau murka Allah SWT?

Ya… Kalau ditanya begitu, sih…
Kalau hal itu jadi masalah buat kamu, ngeberesinnya gak susah. Bilang aja ke mereka kalau kamu mau pulang atau pergi kemana, kek. Tapi jangan bohong. Toh, kamu kan emang niat mau pergi kan? Atau bilang aja mau cari udara segar. Lagipula, itu gak bohong kok. Kalau dekat-dekat dengan majelis yang sedang ghibah, atmosfer sekitar memang terasa gerah.

OK! Yang itu aku ngerti. Tapi kalau kasusnya begini, nih… memang ada orang yang berbuat buruk. Dalam suatu majelis, orang-orang membicarakan itu, tapi hal itu dimaksudkan agar hal-hal yang dibicarakan tadi menjadi pembelajaran untuk peserta majelis. Kalau seperti itu apa juga tidak boleh?
Boleh, dengan satu syarat.

Apa syaratnya?
Jangan sebut nama. Sebut saja si Fulan atau si Fulanah, atau sebutan apapun juga asal tidak menunjukkan identitas orang yang dibicarakan.

Jadi, kalau kita ingin mengadukan seseorang yang sudah berbuat buruk dan melaporkan ke polisi, itu gak boleh? Kan gak mungkin kita lapor ke polisi tanpa menyebut nama orang yang sudah berbuat buruk itu?
Ah, yang itu lain soal, jangan disamakan. Kalau untuk hal seperti itu tidak dilarang, kok. Juga kalau kasusnya sudah sampai di persidangan, pasti banyak saksi yang bisa saja mengatakan keburukan tersangka. Hal itu boleh dilakukan, karena hakim tak akan bisa berbuat adil jika tidak tahu keburukan apa yang dilakukan tersangka kan?

Hoo… begitu ya? Ngerti deh, sekarang…
Ya, begitulah… Bicaralah yang baik atau diam!

20
Agu

Puncak Stress Mahasiswa : Skripsi?

Tadi malam, salah seorang teman saya meminta saya datang ke acara wisuda teman-teman seangkatan. Tentu saja saya senang mendengarnya. Teman-teman saya akhirnya menyelesaikan studi mereka dan telah lama mengakhiri pertempuran dua jam di depan para penguji skripsi. Kata “Wisuda”, “Yudisium”, dan “Lulus” membuat saya senang bercampur semangat. Tapi, entah mengapa kata-kata itu begitu dalamnya menohok ulu hati saya. Kata-kata itu masih belum pantas diucapkan oleh mahasiswa pemalas yang masih saja berkutat dengan pembuatan instrumen skripsi seperti saya. Ironis.

Miris, memang. Budaya mahasiswa Indonesia yang baru mulai serius mengerjakan sesuatu saat hari-H tinggal sebentar lagi, rupanya begitu mengakar dalam darah daging saya. Dan saya tidak bangga karenanya. Apalagi hal itu muncul saat saya tengah dikejar-kejar orangtua agar lulus cepat. Mengenaskan. Ingin rasanya mengutuk diri saya sendiri. Kebanyakan orang Indonesia terlalu payah untuk bisa bersikap tegas pada diri sendiri, dan saya termasuk di dalam golongan itu. Dan saat ini, saya sedang berjuang keras agar bisa keluar dari golongan itu.

Kembali lagi ke perkara skripsi. Sepertinya saya bakal keluar dana banyak hanya untuk mengetahui uji prasyarat analisis mana yang harus saya gunakan. Untuk uji hipotesis, saya sudah memutuskan untuk menggunakan uji z. Masalahnya, ada dua uji prasyarat analisis yang harus saya lakukan lebih dulu. Uji normalitas dan uji homogenitas. Kabarnya, ada satu lagi uji prasyarat analisis yang harus dilakukan. Berarti totalnya ada tiga uji prasyarat analisis. Saya mencari semua itu di perpustakaan selama berminggu-minggu, tapi tidak menemukan apapun. Baru sekarang, perpustakaan mengecewakan saya. Saya juga tidak bisa mengandalkan skripsi orang lain karena walaupun ada beberapa skripsi yang relevan dengan skripsi saya, semuanya menggunakan uji t. Uji z dan uji t memang mirip, hanya berbeda pada jumlah sampel penelitian saja. Tapi saya tetap tidak bisa mengandalkan asumsi saya dan teman-teman saya bahwa uji prasyarat kedua uji hipotesis itu serupa. Saya butuh bukti konkret dalam bentuk tulisan. Saya bisa saja bertanya pada dosen pembimbing tentang semua itu, tapi saya bukan tipe mahasiswa yang punya nyali besar untuk menghadap dosen pembimbing saat pengetahuan saya masih sangat minim. Itulah salah satu alasan yang membuat saya tidak maju-maju juga dalam perkara skripsi ini.

Alasan lain saya tetap jalan di tempat adalah otak kanan saya, tempat bersarangnya semua imajinasi saya, entah mengapa buntu justru di saat-saat genting seperti ini. Padahal, tanpa otak kanan yang bekerja dengan baik, saya tidak akan mungkin bisa menyelesaikan instrumen skripsi saya. Saya selalu heran, saat tidak sedang dikejar-kejar deadline, aliran darah menuju otak kanan saya lancar selancar aliran air di air terjun, bahkan mengalir deras. Tapi mengapa saat sedang dikejar-kejar waktu yang sedang tidak bersahabat, aliran darah menuju otak kanan saya tersumbat. Dan sumbat itu belum bisa saya keluarkan hingga sekarang. Sial sekali. “Seseorang tolong keluarkan sumbat itu”. Kadangkala saya tidak percaya sudah mengeluarkan kata-kata keputusasaan itu. Hanya bisa merengek minta tolong, tanpa mau berusaha sendiri. Setelah ditolong, malah maido (istilahnya orang jawa) atau dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar disebut “protes karena tidak sesuai kehendak hati”. Selalu berusaha cari aman, tidak mengenal kata “mengambil resiko”. Indonesia sekali. Parah.

Saya sangat bangga menjadi bangsa Indonesia. Tapi, saya tidak bangga memiliki sifat kebanyakan orang Indonesia yang selalu berusaha “mendahului nasib”. Waduh, malah jadi mengutip kata-kata di novel karyanya Bang Andrea Hirata. Maaf, Bang, kata-katanya saya pakai dua petik. Yah, anggap saja tidak apa-apa. Anyway, balik lagi. Yah, saya hanya tidak ingin berpikiran dangkal dan hanya bisa melihat satu langkah saja di depan saya. Saya ingin bisa melihat dua atau tiga langkah ke depan. Dan saya mulai membiasakan hal itu. Mungkin kebanyakan main igo yang mengharuskan membaca langkah lawan dua atau tiga langkah ke depan, membuat saya mulai terbiasa belajar untuk membaca kehidupan ya?

Mengapa malah jadi membicarakan igo ya? Ya sudahlah, intinya saya ingin membuang jauh-jauh sifat-sifat yang selalu membuat saya dalam posisi terjepit itu. Saya ingin tegas pada diri saya sendiri. Saya pernah mendengar seseorang mengatakan begini, “Jika kita lunak pada diri kita sendiri, kehidupan akan keras pada kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, kehidupan akan lunak pada kita”. Saya lupa siapa yang mengatakannya. Tapi, siapapun itu… aye, Sir. Akan saya coba. Hee… polosnya, mudah sekali ya termakan kata-kata bagus dari orang lain. Tapi tak apa, asalkan manjur. Tragis.




Lovely Quote

Komentar Terakhir

 

Februari 2010
M S S R K J S
« Agu    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

cbox