Hawa gersang menggelepar jalanan
Melambai menjerat siapa yang lewat
Hanya sebatas angin itu tersisa
meniupkan roh sasar ke segala arah
Kami hidup diantaranya
Ia hidup diantara kami
Tapi ia bebas…
Dan mengikat kami dalam belenggu bernama ‘nafas’
Kami ada karena ia ada
Andai ia hilang, kami lenyap bersamanya
Sehelainya kami hirup
Sedikit demi sedikit
Tanpa pernah habis
Angin memberi kami kehidupan
Juga memberi kami kematian
Kami datang dan pergi kapan saja
Tapi angin…
Selamanya ia selalu ada
Bebas dan selalu ada
by Aoko
Menunggu jam kuliah, Ruang D3. 203 FMIPA UNY
Senin, 23 Maret 2009
Hari ini…
Gerimis enggan menemuiku
Entah terhalang oleh apa
Apakah matahari telah menguapkannya?
Ataukah mendung yang terlalu berat untuk melepasnya?
Masa kecil yang barusan melintas sambil lalu
Menyingkap kenangan akan kebebasan
Merinduku akannya
Aku biasa menyambut dan memeluknya bagai kawan lama
Bermain-main dengannya dan sesekali
Bekas-bekasnya muncrat oleh kaki kecilku
Saat kupijak kaki di genangan kecil peraduannya
Tapi, dewasa itu telah menjemputku
Kutinggalkan sesosok mungil yang mirip aku itu
Kulihat ia sedang bercanda tawa bersamanya
Dia adalah aku, tapi aku bukan dia lagi
Tiada tempat bagiku saat ini dan seterusnya
Kini…
Kuringkukkan tubuh payah ini di pojok kamar
Hanya itu
Kupandang dari balik terali besi
Lewat kaca jendela
Tanpa bisa menyentuhnya
Karena itukah gerimis enggan menemuiku?
oleh Aoko
Minggu kelabu, mendung tanpa hujan
8 Februari 2009
Komentar Terakhir