Archive for Agustus, 2009

20
Agu

Puncak Stress Mahasiswa : Skripsi?

Tadi malam, salah seorang teman saya meminta saya datang ke acara wisuda teman-teman seangkatan. Tentu saja saya senang mendengarnya. Teman-teman saya akhirnya menyelesaikan studi mereka dan telah lama mengakhiri pertempuran dua jam di depan para penguji skripsi. Kata “Wisuda”, “Yudisium”, dan “Lulus” membuat saya senang bercampur semangat. Tapi, entah mengapa kata-kata itu begitu dalamnya menohok ulu hati saya. Kata-kata itu masih belum pantas diucapkan oleh mahasiswa pemalas yang masih saja berkutat dengan pembuatan instrumen skripsi seperti saya. Ironis.

Miris, memang. Budaya mahasiswa Indonesia yang baru mulai serius mengerjakan sesuatu saat hari-H tinggal sebentar lagi, rupanya begitu mengakar dalam darah daging saya. Dan saya tidak bangga karenanya. Apalagi hal itu muncul saat saya tengah dikejar-kejar orangtua agar lulus cepat. Mengenaskan. Ingin rasanya mengutuk diri saya sendiri. Kebanyakan orang Indonesia terlalu payah untuk bisa bersikap tegas pada diri sendiri, dan saya termasuk di dalam golongan itu. Dan saat ini, saya sedang berjuang keras agar bisa keluar dari golongan itu.

Kembali lagi ke perkara skripsi. Sepertinya saya bakal keluar dana banyak hanya untuk mengetahui uji prasyarat analisis mana yang harus saya gunakan. Untuk uji hipotesis, saya sudah memutuskan untuk menggunakan uji z. Masalahnya, ada dua uji prasyarat analisis yang harus saya lakukan lebih dulu. Uji normalitas dan uji homogenitas. Kabarnya, ada satu lagi uji prasyarat analisis yang harus dilakukan. Berarti totalnya ada tiga uji prasyarat analisis. Saya mencari semua itu di perpustakaan selama berminggu-minggu, tapi tidak menemukan apapun. Baru sekarang, perpustakaan mengecewakan saya. Saya juga tidak bisa mengandalkan skripsi orang lain karena walaupun ada beberapa skripsi yang relevan dengan skripsi saya, semuanya menggunakan uji t. Uji z dan uji t memang mirip, hanya berbeda pada jumlah sampel penelitian saja. Tapi saya tetap tidak bisa mengandalkan asumsi saya dan teman-teman saya bahwa uji prasyarat kedua uji hipotesis itu serupa. Saya butuh bukti konkret dalam bentuk tulisan. Saya bisa saja bertanya pada dosen pembimbing tentang semua itu, tapi saya bukan tipe mahasiswa yang punya nyali besar untuk menghadap dosen pembimbing saat pengetahuan saya masih sangat minim. Itulah salah satu alasan yang membuat saya tidak maju-maju juga dalam perkara skripsi ini.

Alasan lain saya tetap jalan di tempat adalah otak kanan saya, tempat bersarangnya semua imajinasi saya, entah mengapa buntu justru di saat-saat genting seperti ini. Padahal, tanpa otak kanan yang bekerja dengan baik, saya tidak akan mungkin bisa menyelesaikan instrumen skripsi saya. Saya selalu heran, saat tidak sedang dikejar-kejar deadline, aliran darah menuju otak kanan saya lancar selancar aliran air di air terjun, bahkan mengalir deras. Tapi mengapa saat sedang dikejar-kejar waktu yang sedang tidak bersahabat, aliran darah menuju otak kanan saya tersumbat. Dan sumbat itu belum bisa saya keluarkan hingga sekarang. Sial sekali. “Seseorang tolong keluarkan sumbat itu”. Kadangkala saya tidak percaya sudah mengeluarkan kata-kata keputusasaan itu. Hanya bisa merengek minta tolong, tanpa mau berusaha sendiri. Setelah ditolong, malah maido (istilahnya orang jawa) atau dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar disebut “protes karena tidak sesuai kehendak hati”. Selalu berusaha cari aman, tidak mengenal kata “mengambil resiko”. Indonesia sekali. Parah.

Saya sangat bangga menjadi bangsa Indonesia. Tapi, saya tidak bangga memiliki sifat kebanyakan orang Indonesia yang selalu berusaha “mendahului nasib”. Waduh, malah jadi mengutip kata-kata di novel karyanya Bang Andrea Hirata. Maaf, Bang, kata-katanya saya pakai dua petik. Yah, anggap saja tidak apa-apa. Anyway, balik lagi. Yah, saya hanya tidak ingin berpikiran dangkal dan hanya bisa melihat satu langkah saja di depan saya. Saya ingin bisa melihat dua atau tiga langkah ke depan. Dan saya mulai membiasakan hal itu. Mungkin kebanyakan main igo yang mengharuskan membaca langkah lawan dua atau tiga langkah ke depan, membuat saya mulai terbiasa belajar untuk membaca kehidupan ya?

Mengapa malah jadi membicarakan igo ya? Ya sudahlah, intinya saya ingin membuang jauh-jauh sifat-sifat yang selalu membuat saya dalam posisi terjepit itu. Saya ingin tegas pada diri saya sendiri. Saya pernah mendengar seseorang mengatakan begini, “Jika kita lunak pada diri kita sendiri, kehidupan akan keras pada kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, kehidupan akan lunak pada kita”. Saya lupa siapa yang mengatakannya. Tapi, siapapun itu… aye, Sir. Akan saya coba. Hee… polosnya, mudah sekali ya termakan kata-kata bagus dari orang lain. Tapi tak apa, asalkan manjur. Tragis.

19
Agu

Guru, Sebuah Pengabdian

Bicara tentang sebuah profesi yang bernama guru, mengingatkan saya akan penolakan saya sendiri terhadap profesi ini empat tahun yang lalu. Sebuah profesi yang saya hindari mati-matian. Dan berharap putus asa agar saya gagal saat SPMB. Dengan begitu, jalan untuk masuk ke dalam dunia animasi yang selalu saya cita-citakan sejak masih kecil, akan terbuka lebar. Tapi, nasib berkata lain. Saat hari pengumuman hasil SPMB telah tiba, ayah saya datang kepada saya membawa sebuah Koran diiringi oleh bunyi detak jantung saya yang semakin cepat. Ekspresi beliau begitu lega. Rasa syukur terpancar dari mata beliau, sebuah pertanda buruk.

Saya selidiki lembar demi lembar dengan cermat. Lalu, pandangan mata saya terhenti di kolom calon mahasiswa yang diterima di Jurdik Matematika, tidak ada. Saya menghela nafas lega. Saat saya memindahkan perhatian ke kolom Jurdik Fisika, semua isi perut saya jungkir balik. Saya tidak percaya. Seolah jantung saya mau meloncat keluar. Harapan saya runtuh seketika bersamaan dengan saat dimana saya melihat nama saya sendiri terpampang di Koran itu. Hari itu berubah menjadi mimpi buruk. Sayangnya, itu bukan mimpi, melainkan kenyataan. Sungguh, tak pernah sedetik pun saya membayangkan akan berkiprah di dunia pendidikan.

Tapi, disinilah saya. Saya rasa, saya perlu berterimakasih pada dua buah novel yang begitu inspiratif karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, yang pertama kalinya membuka mata saya tentang essensi sebenarnya menjadi seorang guru. Sejak saat itulah saya bangga menjadi seorang calon guru. Saya berhenti mengutuk hidup saya sendiri. Saya mulai memahami bahwa menjadi seorang pendidik bukanlah sesuatu yang salah. Dan menempuh jalan di bidang pendidikan, tidak akan menghancurkan hidup saya.

Hal itu semakin dikukuhkan saat saya mulai PPL di sebuah SMA swasta di daerah Sleman. Saya mulai bisa merasakan seperti apa rasanya menjadi seorang guru. Dan saya mulai menyadari satu hal. Ada sebuah kenikmatan tersendiri saat mengajar di depan kelas, juga saat berinteraksi dengan siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Ada banyak hal yang saya pahami dari profesi ini berkat kedua novel tersebut.

Guru adalah sebuah kata yang begitu sarat makna akan sebuah pengabdian. Guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, bukannya tanpa sebab. Kesediaan menjadi guru, berarti juga kesediaan untuk memberikan segenap jiwa dan raga demi mencerdaskan generasi muda bangsa. Seorang guru yang sesungguhnya, tidak akan pernah sekali-kali memikirkan tentang mengejar harta. Mungkin, ada segelintir orang yang menjadi guru karena tergoda oleh tunjangan pensiun dan kenyamanan finansial. Tapi, bukan itu inti sebenarnya.

Tidak sedikit guru yang hidup pas-pasan, bahkan melarat. Bahkan demi menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi, mereka harus mencari utang di sana sini. Namun, mereka tetap survive. Mereka tetap bertahan dengan kehidupan seperti itu.

Dulu, saya yang masih belum tahu apa-apa, yang masih berpikiran hitam-putih, seringkali bertanya-tanya kenapa orang-orang kepingin jadi guru. Padahal, guru bukanlah pekerjaan yang berpenghasilan besar. Tipe pekerjaan yang terkadang, untuk bikin perut kenyang saja susah. Bahkan, masih ada saja guru yang kerja serabutan karena perekonomian keluarga yang “lebih besar pasak daripada tiang”. Guru juga bukan sebuah pekerjaan yang bisa dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang tergolong “elite”. Coba saja, anak-anak jaman sekarang ditanya cita-cita mereka saat sudah dewasa. Hanya sedikit yang menjawab “ingin jadi guru”.
Memang, saat masih kecil, saya pun tidak bercita-cita menjadi guru. Bukan karena saya berpikir bahwa guru adalah tipe pekerjaan yang telah saya sebutkan di atas, melainkan karena saya lebih menyukai bidang lain. Hanya itu.

Namun, setelah saya menapaki dunia pendidikan, saya menemukan jawaban kenapa orang-orang ingin jadi guru. Ini bukan hasil penelitian, bukan pula hasil survey, hanya berdasarkan pengamatan saya saja. Pertama, guru adalah pekerjaan yang mulia. Kedua, seorang guru lebih dihargai di masyarakat. Ketiga, ingin menyalurkan ilmu yang telah didapat kepada orang lain. Keempat, dari segi kemampuan dan dana, calon mahasiswa hanya bisa menjangkau untuk kuliah di bidang pendidikan. Kelima, tunjangan hari tua (saya agak miris menyampaikan ini). Keenam, meneruskan jejak keluarga dan mewujudkan cita-cita orangtua yang ingin anaknya jadi guru (termasuk saya). Terakhir, suka anak-anak dan guru adalah profesi yang terlibat dalam perkembangan anak-anak.

Saya bisa merangkum pengamatan saya itu dalam tujuh hal di atas. Tentu saja, bisa benar, bisa juga tidak. Pengamatan tiap orang kan beda-beda. Tapi, walau sulit saya tetap ingin jadi guru. Karena saya menikmati saat-saat berinteraksi dengan siswa. Tentu saja menjadi guru bukan hanya masalah menyampaikan informasi saja, melainkan juga masalah bagaimana mendidik siswa menjadi pribadi yang bisa diterima di masyarakat. Itulah kesenangan dan kenikmatan menjadi guru.

Semoga para guru dewasa ini tidak terbebani dengan pekerjaan mereka. Jika seorang guru benar-benar menikmati saat-saat dia berinteraksi dengan siswa dalam suatu kegiatan pembelajaran, dia akan menemukan makna sebuah pengabdian seorang guru. Tanpa guru, mau jadi apa generasi muda bangsa ini?

Jadi, teruntuk para guru di seluruh penjuru tanah air, berbanggalah dan bersyukurlah… Sebab, guru adalah pahlawan bangsa yang berjuang dengan pengabdiannya kepada Negara.




Lovely Quote

Komentar Terakhir

 

Agustus 2009
M S S R K J S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

cbox