Bicara tentang sebuah profesi yang bernama guru, mengingatkan saya akan penolakan saya sendiri terhadap profesi ini empat tahun yang lalu. Sebuah profesi yang saya hindari mati-matian. Dan berharap putus asa agar saya gagal saat SPMB. Dengan begitu, jalan untuk masuk ke dalam dunia animasi yang selalu saya cita-citakan sejak masih kecil, akan terbuka lebar. Tapi, nasib berkata lain. Saat hari pengumuman hasil SPMB telah tiba, ayah saya datang kepada saya membawa sebuah Koran diiringi oleh bunyi detak jantung saya yang semakin cepat. Ekspresi beliau begitu lega. Rasa syukur terpancar dari mata beliau, sebuah pertanda buruk.

Saya selidiki lembar demi lembar dengan cermat. Lalu, pandangan mata saya terhenti di kolom calon mahasiswa yang diterima di Jurdik Matematika, tidak ada. Saya menghela nafas lega. Saat saya memindahkan perhatian ke kolom Jurdik Fisika, semua isi perut saya jungkir balik. Saya tidak percaya. Seolah jantung saya mau meloncat keluar. Harapan saya runtuh seketika bersamaan dengan saat dimana saya melihat nama saya sendiri terpampang di Koran itu. Hari itu berubah menjadi mimpi buruk. Sayangnya, itu bukan mimpi, melainkan kenyataan. Sungguh, tak pernah sedetik pun saya membayangkan akan berkiprah di dunia pendidikan.

Tapi, disinilah saya. Saya rasa, saya perlu berterimakasih pada dua buah novel yang begitu inspiratif karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, yang pertama kalinya membuka mata saya tentang essensi sebenarnya menjadi seorang guru. Sejak saat itulah saya bangga menjadi seorang calon guru. Saya berhenti mengutuk hidup saya sendiri. Saya mulai memahami bahwa menjadi seorang pendidik bukanlah sesuatu yang salah. Dan menempuh jalan di bidang pendidikan, tidak akan menghancurkan hidup saya.

Hal itu semakin dikukuhkan saat saya mulai PPL di sebuah SMA swasta di daerah Sleman. Saya mulai bisa merasakan seperti apa rasanya menjadi seorang guru. Dan saya mulai menyadari satu hal. Ada sebuah kenikmatan tersendiri saat mengajar di depan kelas, juga saat berinteraksi dengan siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Ada banyak hal yang saya pahami dari profesi ini berkat kedua novel tersebut.

Guru adalah sebuah kata yang begitu sarat makna akan sebuah pengabdian. Guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, bukannya tanpa sebab. Kesediaan menjadi guru, berarti juga kesediaan untuk memberikan segenap jiwa dan raga demi mencerdaskan generasi muda bangsa. Seorang guru yang sesungguhnya, tidak akan pernah sekali-kali memikirkan tentang mengejar harta. Mungkin, ada segelintir orang yang menjadi guru karena tergoda oleh tunjangan pensiun dan kenyamanan finansial. Tapi, bukan itu inti sebenarnya.

Tidak sedikit guru yang hidup pas-pasan, bahkan melarat. Bahkan demi menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi, mereka harus mencari utang di sana sini. Namun, mereka tetap survive. Mereka tetap bertahan dengan kehidupan seperti itu.

Dulu, saya yang masih belum tahu apa-apa, yang masih berpikiran hitam-putih, seringkali bertanya-tanya kenapa orang-orang kepingin jadi guru. Padahal, guru bukanlah pekerjaan yang berpenghasilan besar. Tipe pekerjaan yang terkadang, untuk bikin perut kenyang saja susah. Bahkan, masih ada saja guru yang kerja serabutan karena perekonomian keluarga yang “lebih besar pasak daripada tiang”. Guru juga bukan sebuah pekerjaan yang bisa dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang tergolong “elite”. Coba saja, anak-anak jaman sekarang ditanya cita-cita mereka saat sudah dewasa. Hanya sedikit yang menjawab “ingin jadi guru”.
Memang, saat masih kecil, saya pun tidak bercita-cita menjadi guru. Bukan karena saya berpikir bahwa guru adalah tipe pekerjaan yang telah saya sebutkan di atas, melainkan karena saya lebih menyukai bidang lain. Hanya itu.

Namun, setelah saya menapaki dunia pendidikan, saya menemukan jawaban kenapa orang-orang ingin jadi guru. Ini bukan hasil penelitian, bukan pula hasil survey, hanya berdasarkan pengamatan saya saja. Pertama, guru adalah pekerjaan yang mulia. Kedua, seorang guru lebih dihargai di masyarakat. Ketiga, ingin menyalurkan ilmu yang telah didapat kepada orang lain. Keempat, dari segi kemampuan dan dana, calon mahasiswa hanya bisa menjangkau untuk kuliah di bidang pendidikan. Kelima, tunjangan hari tua (saya agak miris menyampaikan ini). Keenam, meneruskan jejak keluarga dan mewujudkan cita-cita orangtua yang ingin anaknya jadi guru (termasuk saya). Terakhir, suka anak-anak dan guru adalah profesi yang terlibat dalam perkembangan anak-anak.

Saya bisa merangkum pengamatan saya itu dalam tujuh hal di atas. Tentu saja, bisa benar, bisa juga tidak. Pengamatan tiap orang kan beda-beda. Tapi, walau sulit saya tetap ingin jadi guru. Karena saya menikmati saat-saat berinteraksi dengan siswa. Tentu saja menjadi guru bukan hanya masalah menyampaikan informasi saja, melainkan juga masalah bagaimana mendidik siswa menjadi pribadi yang bisa diterima di masyarakat. Itulah kesenangan dan kenikmatan menjadi guru.

Semoga para guru dewasa ini tidak terbebani dengan pekerjaan mereka. Jika seorang guru benar-benar menikmati saat-saat dia berinteraksi dengan siswa dalam suatu kegiatan pembelajaran, dia akan menemukan makna sebuah pengabdian seorang guru. Tanpa guru, mau jadi apa generasi muda bangsa ini?

Jadi, teruntuk para guru di seluruh penjuru tanah air, berbanggalah dan bersyukurlah… Sebab, guru adalah pahlawan bangsa yang berjuang dengan pengabdiannya kepada Negara.