<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Kependidikan</title>
	<atom:link href="http://aotech.edublogs.org/category/kependidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aotech.edublogs.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Aug 2009 06:20:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Puncak Stress Mahasiswa : Skripsi?</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2009/08/20/puncak-stress-mahasiswa-skripsi/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2009/08/20/puncak-stress-mahasiswa-skripsi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 06:20:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kependidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam, salah seorang teman saya meminta saya datang ke acara wisuda teman-teman seangkatan. Tentu saja saya senang mendengarnya. Teman-teman saya akhirnya menyelesaikan studi mereka dan telah lama mengakhiri pertempuran dua jam di depan para penguji skripsi. Kata “Wisuda”, “Yudisium”, dan “Lulus” membuat saya senang bercampur semangat. Tapi, entah mengapa kata-kata itu begitu dalamnya menohok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi malam, salah seorang teman saya meminta saya datang ke acara wisuda teman-teman seangkatan. Tentu saja saya senang mendengarnya. Teman-teman saya akhirnya menyelesaikan studi mereka dan telah lama mengakhiri pertempuran dua jam di depan para penguji skripsi. Kata “Wisuda”, “Yudisium”, dan “Lulus” membuat saya senang bercampur semangat. Tapi, entah mengapa kata-kata itu begitu dalamnya menohok ulu hati saya. Kata-kata itu masih belum pantas diucapkan oleh mahasiswa pemalas yang masih saja berkutat dengan pembuatan instrumen skripsi seperti saya. Ironis.</p>
<p>Miris, memang. Budaya mahasiswa Indonesia yang baru mulai serius mengerjakan sesuatu saat hari-H tinggal sebentar lagi, rupanya begitu mengakar dalam darah daging saya. Dan saya tidak bangga karenanya. Apalagi hal itu muncul saat saya tengah dikejar-kejar orangtua agar lulus cepat. Mengenaskan. Ingin rasanya mengutuk diri saya sendiri. Kebanyakan orang Indonesia terlalu payah untuk bisa bersikap tegas pada diri sendiri, dan saya termasuk di dalam golongan itu. Dan saat ini, saya sedang berjuang keras agar bisa keluar dari golongan itu.</p>
<p>Kembali lagi ke perkara skripsi. Sepertinya saya bakal keluar dana banyak hanya untuk mengetahui uji prasyarat analisis mana yang harus saya gunakan. Untuk uji hipotesis, saya sudah memutuskan untuk menggunakan uji z. Masalahnya, ada dua uji prasyarat analisis yang harus saya lakukan lebih dulu. Uji normalitas dan uji homogenitas. Kabarnya, ada satu lagi uji prasyarat analisis yang harus dilakukan. Berarti totalnya ada tiga uji prasyarat analisis. Saya mencari semua itu di perpustakaan selama berminggu-minggu, tapi tidak menemukan apapun. Baru sekarang, perpustakaan mengecewakan saya. Saya juga tidak bisa mengandalkan skripsi orang lain karena walaupun ada beberapa skripsi yang relevan dengan skripsi saya, semuanya menggunakan uji t. Uji z dan uji t memang mirip, hanya berbeda pada jumlah sampel penelitian saja. Tapi saya tetap tidak bisa mengandalkan asumsi saya dan teman-teman saya bahwa uji prasyarat kedua uji hipotesis itu serupa. Saya butuh bukti konkret dalam bentuk tulisan. Saya bisa saja bertanya pada dosen pembimbing tentang semua itu, tapi saya bukan tipe mahasiswa yang punya nyali besar untuk menghadap dosen pembimbing saat pengetahuan saya masih sangat minim. Itulah salah satu alasan yang membuat saya tidak maju-maju juga dalam perkara skripsi ini.</p>
<p>Alasan lain saya tetap jalan di tempat adalah otak kanan saya, tempat bersarangnya semua imajinasi saya, entah mengapa buntu justru di saat-saat genting seperti ini. Padahal, tanpa otak kanan yang bekerja dengan baik, saya tidak akan mungkin bisa menyelesaikan instrumen skripsi saya. Saya selalu heran, saat tidak sedang dikejar-kejar deadline, aliran darah menuju otak kanan saya lancar selancar aliran air di air terjun, bahkan mengalir deras. Tapi mengapa saat sedang dikejar-kejar waktu yang sedang tidak bersahabat, aliran darah menuju otak kanan saya tersumbat. Dan sumbat itu belum bisa saya keluarkan hingga sekarang. Sial sekali. “Seseorang tolong keluarkan sumbat itu”. Kadangkala saya tidak percaya sudah mengeluarkan kata-kata keputusasaan itu. Hanya bisa merengek minta tolong, tanpa mau berusaha sendiri. Setelah ditolong, malah <em>maido</em> (istilahnya orang jawa) atau dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar disebut “protes karena tidak sesuai kehendak hati”. Selalu berusaha cari aman, tidak mengenal kata “mengambil resiko”. Indonesia sekali. Parah.</p>
<p>Saya sangat bangga menjadi bangsa Indonesia. Tapi, saya tidak bangga memiliki sifat kebanyakan orang Indonesia yang selalu berusaha &#8220;mendahului nasib&#8221;. Waduh, malah jadi mengutip kata-kata di novel karyanya Bang Andrea Hirata. Maaf, Bang, kata-katanya saya pakai dua petik. Yah, anggap saja tidak apa-apa. Anyway, balik lagi. Yah, saya hanya tidak ingin berpikiran dangkal dan hanya bisa melihat satu langkah saja di depan saya. Saya ingin bisa melihat dua atau tiga langkah ke depan. Dan saya mulai membiasakan hal itu. Mungkin kebanyakan main <em>igo</em> yang mengharuskan membaca langkah lawan dua atau tiga langkah ke depan, membuat saya mulai terbiasa belajar untuk membaca kehidupan ya?</p>
<p>Mengapa malah jadi membicarakan <em>igo</em> ya? Ya sudahlah, intinya saya ingin membuang jauh-jauh sifat-sifat yang selalu membuat saya dalam posisi terjepit itu. Saya ingin tegas pada diri saya sendiri. Saya pernah mendengar seseorang mengatakan begini, “Jika kita lunak pada diri kita sendiri, kehidupan akan keras pada kita. Jika kita keras pada diri kita sendiri, kehidupan akan lunak pada kita”. Saya lupa siapa yang mengatakannya. Tapi, siapapun itu… aye, Sir. Akan saya coba. Hee… polosnya, mudah sekali ya termakan kata-kata bagus dari orang lain. Tapi tak apa, asalkan manjur. Tragis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2009/08/20/puncak-stress-mahasiswa-skripsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru, Sebuah Pengabdian</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2009/08/19/guru-sebuah-pengabdian/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2009/08/19/guru-sebuah-pengabdian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 13:03:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kependidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Bicara tentang sebuah profesi yang bernama guru, mengingatkan saya akan penolakan saya sendiri terhadap profesi ini empat tahun yang lalu. Sebuah profesi yang saya hindari mati-matian. Dan berharap putus asa agar saya gagal saat SPMB. Dengan begitu, jalan untuk masuk ke dalam dunia animasi yang selalu saya cita-citakan sejak masih kecil, akan terbuka lebar. Tapi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bicara tentang sebuah profesi yang bernama guru, mengingatkan saya akan penolakan saya sendiri terhadap profesi ini empat tahun yang lalu. Sebuah profesi yang saya hindari mati-matian. Dan berharap putus asa agar saya gagal saat SPMB. Dengan begitu, jalan untuk masuk ke dalam dunia animasi yang selalu saya cita-citakan sejak masih kecil, akan terbuka lebar. Tapi, nasib berkata lain. Saat hari pengumuman hasil SPMB telah tiba, ayah saya datang kepada saya membawa sebuah Koran diiringi oleh bunyi detak jantung saya yang semakin cepat. Ekspresi beliau begitu lega. Rasa syukur terpancar dari mata beliau, sebuah pertanda buruk.</p>
<p>Saya selidiki lembar demi lembar dengan cermat. Lalu, pandangan mata saya terhenti di kolom calon mahasiswa yang diterima di Jurdik Matematika, tidak ada. Saya menghela nafas lega. Saat saya memindahkan perhatian ke kolom Jurdik Fisika, semua isi perut saya jungkir balik. Saya tidak percaya. Seolah jantung saya mau meloncat keluar. Harapan saya runtuh seketika bersamaan dengan saat dimana saya melihat nama saya sendiri terpampang di Koran itu. Hari itu berubah menjadi mimpi buruk. Sayangnya, itu bukan mimpi, melainkan kenyataan. Sungguh, tak pernah sedetik pun saya membayangkan akan berkiprah di dunia pendidikan.</p>
<p>Tapi, disinilah saya. Saya rasa, saya perlu berterimakasih pada dua buah novel yang begitu inspiratif karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, yang pertama kalinya membuka mata saya tentang essensi sebenarnya menjadi seorang guru. Sejak saat itulah saya bangga menjadi seorang calon guru. Saya berhenti mengutuk hidup saya sendiri. Saya mulai memahami bahwa menjadi seorang pendidik bukanlah sesuatu yang salah. Dan menempuh jalan di bidang pendidikan, tidak akan menghancurkan hidup saya.</p>
<p>Hal itu semakin dikukuhkan saat saya mulai PPL di sebuah SMA swasta di daerah Sleman. Saya mulai bisa merasakan seperti apa rasanya menjadi seorang guru. Dan saya mulai menyadari satu hal. Ada sebuah kenikmatan tersendiri saat mengajar di depan kelas, juga saat berinteraksi dengan siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Ada banyak hal yang saya pahami dari profesi ini berkat kedua novel tersebut.</p>
<p>Guru adalah sebuah kata yang begitu sarat makna akan sebuah pengabdian. Guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, bukannya tanpa sebab. Kesediaan menjadi guru, berarti juga kesediaan untuk memberikan segenap jiwa dan raga demi mencerdaskan generasi muda bangsa. Seorang guru yang sesungguhnya, tidak akan pernah sekali-kali memikirkan tentang mengejar harta. Mungkin, ada segelintir orang yang menjadi guru karena tergoda oleh tunjangan pensiun dan kenyamanan finansial. Tapi, bukan itu inti sebenarnya.</p>
<p>Tidak sedikit guru yang hidup pas-pasan, bahkan melarat. Bahkan demi menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi, mereka harus mencari utang di sana sini. Namun, mereka tetap survive. Mereka tetap bertahan dengan kehidupan seperti itu.</p>
<p>Dulu, saya yang masih belum tahu apa-apa, yang masih berpikiran hitam-putih, seringkali bertanya-tanya kenapa orang-orang kepingin jadi guru. Padahal, guru bukanlah pekerjaan yang berpenghasilan besar. Tipe pekerjaan yang terkadang, untuk bikin perut kenyang saja susah. Bahkan, masih ada saja guru yang kerja serabutan karena perekonomian keluarga yang “lebih besar pasak daripada tiang”. Guru juga bukan sebuah pekerjaan yang bisa dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang tergolong “elite”. Coba saja, anak-anak jaman sekarang ditanya cita-cita mereka saat sudah dewasa. Hanya sedikit yang menjawab “ingin jadi guru”.<br />
Memang, saat masih kecil, saya pun tidak bercita-cita menjadi guru. Bukan karena saya berpikir bahwa guru adalah tipe pekerjaan yang telah saya sebutkan di atas, melainkan karena saya lebih menyukai bidang lain. Hanya itu.</p>
<p>Namun, setelah saya menapaki dunia pendidikan, saya menemukan jawaban kenapa orang-orang ingin jadi guru. Ini bukan hasil penelitian, bukan pula hasil survey, hanya berdasarkan pengamatan saya saja. Pertama, guru adalah pekerjaan yang mulia. Kedua, seorang guru lebih dihargai di masyarakat. Ketiga, ingin menyalurkan ilmu yang telah didapat kepada orang lain. Keempat, dari segi kemampuan dan dana, calon mahasiswa hanya bisa menjangkau untuk kuliah di bidang pendidikan. Kelima, tunjangan hari tua (saya agak miris menyampaikan ini). Keenam, meneruskan jejak keluarga dan mewujudkan cita-cita orangtua yang ingin anaknya jadi guru (termasuk saya). Terakhir, suka anak-anak dan guru adalah profesi yang terlibat dalam perkembangan anak-anak.</p>
<p>Saya bisa merangkum pengamatan saya itu dalam tujuh hal di atas. Tentu saja, bisa benar, bisa juga tidak. Pengamatan tiap orang kan beda-beda. Tapi, walau sulit saya tetap ingin jadi guru. Karena saya menikmati saat-saat berinteraksi dengan siswa. Tentu saja menjadi guru bukan hanya masalah menyampaikan informasi saja, melainkan juga masalah bagaimana mendidik siswa menjadi pribadi yang bisa diterima di masyarakat. Itulah kesenangan dan kenikmatan menjadi guru.</p>
<p>Semoga para guru dewasa ini tidak terbebani dengan pekerjaan mereka. Jika seorang guru benar-benar menikmati saat-saat dia berinteraksi dengan siswa dalam suatu kegiatan pembelajaran, dia akan menemukan makna sebuah pengabdian seorang guru. Tanpa guru, mau jadi apa generasi muda bangsa ini?</p>
<p>Jadi, teruntuk para guru di seluruh penjuru tanah air, berbanggalah dan bersyukurlah… Sebab, guru adalah pahlawan bangsa yang berjuang dengan pengabdiannya kepada Negara.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2009/08/19/guru-sebuah-pengabdian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Media Pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar di Kelas</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2008/11/08/pentingnya-media-pembelajaran-dalam-proses-belajar-mengajar-di-kelas/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2008/11/08/pentingnya-media-pembelajaran-dalam-proses-belajar-mengajar-di-kelas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 05:50:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kependidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Secara historis, pendidikan dalam arti luas telah mulai dilaksanakan sejak manusia berada di muka bumi ini. Seiring dengan berkembangnya peradaban manusia, semakin berkembang pula bentuk, isi, dan permasalahan dalam pendidikan. Sehingga menuntut manusia untuk terus memajukan pola pikir yang sistematis tentang pendidikan. 
Pendidikan, sebagaimana tercantum dalam UU RI No. 20 Tahun 2003, merupakan usaha sadar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h6><span style="font-size: 12pt;font-family:">Secara historis, pendidikan dalam arti luas telah mulai dilaksanakan sejak manusia berada di muka bumi ini. Seiring dengan berkembangnya peradaban manusia, semakin berkembang pula bentuk, isi, dan permasalahan dalam pendidikan. Sehingga menuntut manusia untuk terus memajukan pola pikir yang sistematis tentang pendidikan. </span></h6>
<h6 class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt;font-family:">Pendidikan, sebagaimana tercantum dalam UU RI No. 20 Tahun 2003, merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan berusaha untuk mengembangkan peserta didik agar mampu berdiri sendiri. Untuk itu peserta didik harus mampu berkembang dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.</span></h6>
<h6 class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt;font-family:">Perkembangan peserta didik sendiri tak lepas dari peran seorang pendidik, dalam hal ini adalah guru. Para peserta didik tidak mungkin dapat belajar sendiri tanpa panduan seorang guru. Walaupun dewasa ini metode CBSA yang berpusat pada peserta didik telah banyak diterapkan dalam pendidikan di Indonesia, namun guru tetap menempati kedudukan tersendiri. Peserta didik hanya mampu belajar dengan baik jika guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.</span></h6>
<h6 class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt;font-family:">Guru merupakan fasilitator bagi peserta didik. Untuk membantu belajar peserta didik, guru perlu pandai memilah dan memilih media yang digunakan dalam pembelajaran. Terutama dalam mata pelajaran IPA pada umumnya dan Fisika pada khususnya, peserta didik cenderung menunjukkan ketidaktertarikannya. Dengan adanya media pengajaran dalam pembelajaran fisika, diharapkan dapat mendorong peserta didik agar tertarik untuk mempelajari fisika. Berawal dari rasa tertarik itulah, motivasi belajar peserta didik dapat muncul. Sehingga peserta didik pun dapat lebih mudah memahami materi yang diajarkan.</span></h6>
<h6 class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt;font-family:">Namun, dalam realita pengajaran fisika dewasa ini, guru masih banyak menggunakan metode ceramah dalam penyampaian materi. Proses belajar mengajar yang seperti itulah yang akan membuat peserta didik jenuh dan kehilangan motivasi belajar yang akan mengakibatkan hasil belajarnya rendah. Selain itu, guru juga jarang sekali menggunakan media pengajaran dalam pembelajaran fisika. Kalaupun ada, media itu hanyalah berupa buku paket pelajaran fisika. Pengetahuan guru tentang media pembelajaran yang baik untuk menunjang proses belajar mengajar di kelas sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya motivasi belajar fisika peserta didik. Semakin bervariasinya pengetahuan guru tentang media pembelajaran, diharapkan akan semakin meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Tentu saja, hal itu berarti tidak bisa tidak, media pembelajaran perlu digunakan di dalam kelas. Mengurangi kejenuhan peserta didik, mutlak diperlukan oleh guru. Itulah manfaat dari media pembelajaran. Tentu saja guru pun harus selektif dalam menggunakan media pembelajaran mana yang paling tepat untuk diterapkan di dalam kelas. </span></h6>
<h6 class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt;font-family:">Apakah hal itu ada pengaruhnya? Bukankah media pembelajaran manapun dapat diterapkan di dalam kelas? Ya, tentu saja ada pengaruhnya. Dan perlu diingat bahwa kelas yang satu dengan kelas yang lain tidaklah sama. Jadi, bila suatu media pembelajaran dapat dengan efektif diterapkan di satu kelas, belum tentu di kelas lain efektif. Lah, lalu bagaimana cara mengatasinya? Dalam hal ini, peran guru sangatlah vital dalam pemilihan media pembelajaran karena hanya guru yang mampu untuk mengenali karakteristik kelas yang dia ajar. Karakteristik setiap kelas pasti berbeda. Jika guru mampu menemukan perbedaan itu dan dapat memilih media pembelajaran mana yang dapat diterapkan pada setiap kelas yang berbeda, hal itu akan sangat membantu dalam menciptakan proses belajar mengajar yang efektif.</span></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2008/11/08/pentingnya-media-pembelajaran-dalam-proses-belajar-mengajar-di-kelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Salah Komik?!</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2008/03/29/apa-salah-komik/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2008/03/29/apa-salah-komik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 07:23:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kependidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/2008/03/29/apa-salah-komik/</guid>
		<description><![CDATA[Apa sih kesan yang pertama kali muncul dari bacaan bernama komik? Bacaan anak-anak yang sederhana dengan gambar dan cerita. Ya, komik cenderung dikategorikan sebagai bacaan anak-anak untuk hiburan. Bahkan tidak sedikit orangtua yang menganggap komik tidak layak dikonsumsi anak-anak karena isinya yang sama sekali tidak mendidik. Tidak hanya itu, selain di cap buruk di masyarakat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa sih kesan yang pertama kali muncul dari bacaan bernama komik? Bacaan anak-anak yang sederhana dengan gambar dan cerita. Ya, komik cenderung dikategorikan sebagai bacaan anak-anak untuk hiburan. Bahkan tidak sedikit orangtua yang menganggap komik tidak layak dikonsumsi anak-anak karena isinya yang sama sekali tidak mendidik. Tidak hanya itu, selain di cap buruk di masyarakat, komik juga merupakan bacaan terlarang berada di perpustakaan. Bahkan tidak jarang siswa dihukum karena membawa komik ke sekolah.</p>
<p>Sebenarnya tidak sepenuhnya benar seperti itu. Komik bukan hanya adalah bacaan anak-anak. Di Jepang, yang merupakan pengekspor komik terbesar di Indonesia, komik tidak hanya dikategorikan sebagai bacaan anak-anak saja, tetapi juga ada yang dikategorikan bacaan remaja hingga dewasa tergantung dari isi komik itu sendiri. Namun, setelah komik-komik tersebut masuk ke Indonesia, penyensoran dan pengkategorian komik menjadi berubah drastis. Ada komik untuk dewasa dikategorikan komik anak-anak, misalnya saja adalah komik Crayon Shinchan, hampir tak ada anak yang tidak mengenal komik yang satu ini. Padahal di Jepang, komik Crayon Shinchan dikategorikan sebagai bacaan dewasa. Itu adalah sedikit contoh bagaimana pengkategorian komik di Indonesia kurang berjalan baik.</p>
<p>Kembali ke permasalahan awal, komik tidak hanya berisi cerita yang hanya sekadar cerita. Sepanjang saya sendiri mengkonsumsi komik sedari kecil, di balik cerita-cerita dalam komik yang notabene sering diasumsikan tidak mendidik oleh kebanyakan orang, di sisi lain komik juga menyiratkan pesan moral. Antara lain tentang persahabatan, perjuangan hidup, prinsip, kesetiakawanan, konflik, kepahlawanan, bahkan sampai nasionalisme.</p>
<p>Sebagai contoh, komik yang saya sendiri sangat menyukainya karena pesan moral yang dikandungnya, adalah komik Whistle. Komik ini menceritakan tentang seorang anak SMP yang berusaha keras untuk menjadi seorang pemain sepakbola profesional. Padahal pada awalnya dia hanyalah seorang pemungut dan pembersih bola. Tetapi karena sangat menyukai sepakbola, dengan usaha yang dimulainya dari nol itulah akhirnya ia bisa merangkak naik sedikit demi sedikit menjadi pemain yang bisa diandalkan oleh timnya. Pengarang komik ini, Daisuke Higuchi, seolah ingin mengatakah bahwa seburuk apapun kemampuan seseorang dalam suatu bidang, asalkan menyukainya dan terus maju untuk menggapainya, tidak ada yang tidak mungkin.</p>
<p>Itu hanyalah salah satu dari sekian banyak komik yang beredar. Memang tidak dipungkiri bahwa ada komik-komik yang mengetengahkan tentang kekerasan, semisal komik Naruto, Dragon Ball, dll. Namun, dibalik itu semua juga tersirat makna bahwa kebaikan selalu menang atas kejahatan.</p>
<p>Contoh di atas adalah jenis komik yang mengetengahkan tentang perjalanan kehidupan manusia. Namun, sekarang ini pun tidak sedikit komik-komik tentang pendidikan. Seperti komik hasil karya seorang fisikawan Indonesia, Prof. Yohanes SuryaPhD, yang dibawakan ala komik Jepang atau Manga dengan tokohnya Archi dan Meidy. Komik yang bertema tentang fisika ini menceritakan tentang sepasang anak kembar yang menjalani kehidupan sebagai anak sekolah dasar. Segala kejadian dalam kehidupan mereka di sekolah dan rumah, sesuai dengan konsep dari ilmu-ilmu dasar fisika. Petualangan yang terjadi juga diselingi dengan humor-humor segar. Merupakan media yang mengasyikkan sekaligus bisa mendidik anak untuk belajar Fisika.</p>
<p>Jadi, janganlah selalu menjadikan komik sebagai tersangka utama dalam kemalasan sang anak belajar. Bukan salah komik jika anak lebih suka membacanya daripada buku pelajaran. Peran para orangtua sendiri juga tidak bisa lepas dari permasalahan ini. Orangtua seharusnya dapat bertindak secara bijak dalam mendisiplinkan anak-anak mereka. Jangan selalu mengkambinghitamkan komik sebagai biang keladi.</p>
<p>Akhirnya, saya hanya dapat mengatakan bahwa kita harus lebih selektif dalam memberikan bacaan untuk anak. Jika hanya buku pelajaran saja, tentu anak akan bosan. Cobalah memberi anak komik-komik yang bertema pendidikan. Anak-anak mendapatkan hiburan yang menyegarkan sekaligus dapat belajar dari komik-komik tersebut&#8230;</p>
<p>Mari kita kembangkan komik pendidikan&#8230; Mengemas pendidikan dalam bacaan menghibur seperti komik, tidak ada ruginya, bukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2008/03/29/apa-salah-komik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
