Awal yang muram untuk membuka hari
Sesuram sketsa abstrak terakhir yang kubuat
Entah pada apa ku menjejak
Tak ada bekas yang pasti dalam remang-remang kehidupan
Mana matahari?
Pagi yang sepekat kubangan tinta kelabu
Tanpa menjatuhkan tangisnya setetespun
Yang melumuri bumi dengan bayang-bayang sekarat
Hanya bisa membuatku membeku di ladang kemalasan
Mana angin hangat?
Hanya tertebar milyaran atom es di nusa
Tak terlihat, tak terdengar, bahkan tak sadar sedalam apa ia merasuk
Menghujamkan jutaan massa di kelopakku
Memerah-pekatkan korneaku hingga tak kukenali lagi
Meringkukkanku dalam mimpi yang sesak
Kebekuan yang menusuk ini…
Hanya membuatku terkapar tak berdaya
Aku tidak butuh
Hapus saja kelabu dari cakrawala
Berikan aku matahari
Agar bisa memaksaku bangun dari tahta kemalasanku
Berikan aku angin hangat
Agar bisa menghempaskan jutaan massa yang menimbun kelopakku
Hingga ku bisa melangkah
Mengiringi sang waktu…
by. Aoko
16 Juni 2009
10:51 AM
Hawa gersang menggelepar jalanan
Melambai menjerat siapa yang lewat
Hanya sebatas angin itu tersisa
meniupkan roh sasar ke segala arah
Kami hidup diantaranya
Ia hidup diantara kami
Tapi ia bebas…
Dan mengikat kami dalam belenggu bernama ‘nafas’
Kami ada karena ia ada
Andai ia hilang, kami lenyap bersamanya
Sehelainya kami hirup
Sedikit demi sedikit
Tanpa pernah habis
Angin memberi kami kehidupan
Juga memberi kami kematian
Kami datang dan pergi kapan saja
Tapi angin…
Selamanya ia selalu ada
Bebas dan selalu ada
by Aoko
Menunggu jam kuliah, Ruang D3. 203 FMIPA UNY
Senin, 23 Maret 2009
Hari ini…
Gerimis enggan menemuiku
Entah terhalang oleh apa
Apakah matahari telah menguapkannya?
Ataukah mendung yang terlalu berat untuk melepasnya?
Masa kecil yang barusan melintas sambil lalu
Menyingkap kenangan akan kebebasan
Merinduku akannya
Aku biasa menyambut dan memeluknya bagai kawan lama
Bermain-main dengannya dan sesekali
Bekas-bekasnya muncrat oleh kaki kecilku
Saat kupijak kaki di genangan kecil peraduannya
Tapi, dewasa itu telah menjemputku
Kutinggalkan sesosok mungil yang mirip aku itu
Kulihat ia sedang bercanda tawa bersamanya
Dia adalah aku, tapi aku bukan dia lagi
Tiada tempat bagiku saat ini dan seterusnya
Kini…
Kuringkukkan tubuh payah ini di pojok kamar
Hanya itu
Kupandang dari balik terali besi
Lewat kaca jendela
Tanpa bisa menyentuhnya
Karena itukah gerimis enggan menemuiku?
oleh Aoko
Minggu kelabu, mendung tanpa hujan
8 Februari 2009
Sebuah nama, sebuah perasaan…
Saat akhir malam semakin dekat merayap
Sekelebat datang dan pergi tanpa sapa
Ia yang selalu melesat bagai anak panah
Apa yang membuatnya terhenti?
Papan target belumlah tercapai
Kenapa Ia terhenti?
Kesah dan resah yang selalu hadir di sini…
Terusir begitu saja olehnya
Dia datang
Bagaimanapun badai menerpa
Bagaimanapun hujan melebat
Dia tetap datang
Kini, semua itu berdebam menderaku
Saat sesosok tanya menuntut jawabku
“Akankah ada sesal yang terlintas?”
Aku tak tahu…
Jawab itu
Sesuatu yang tak pernah bisa kuberikan
Tahukah kau?
Hati yang terlelap oleh kelam
Mengabutkan kenangan yang ternistakan
Apa kau dengar irama itu?
Lantunan nada yang begitu merdu
Namun sarat oleh kepedihan
Dalam dirinya…
Yang hanya mengenal malam semata
Terlunta dalam siang yang benderang
Mata itu kembali sayu
Tak seorangpun makhlukNya
Dapat mengalahkan kesepian
Dirinya juga…
Ah… meski kadang angin dingin menerpa
Dia bertahan dalam tegar
Pergilah…
Rajut kembali sayapnya yang t’lah patah
Bawa ia…
Keluar dari kegelapan
As soon as a meeting
I’m coming
Waiting a figure who don’t know when will appear
When I’m open the same door
Straight and straight look for
The existence what never exist
In the end…
That figure never come
The rest is only an empty
In spite of…never any regret
Because I believe
Like a star’s light in the deep sky
Like make a wish to a falling star
Like that I believe
Until the end…
If many people still have a trust
The hope never die from the human’s heart
Suatu waktu dia terjaga
Dalam Kesendirian yang pekat
Menunggu datangnya sang waktu
Langkah-langkah kaki kecil itu
Mengalun merdu mengiringi jutaan rindu
Menggemakan salam seorang sahabat
Di suatu masa bernama pertemuan
Dalam penantian dan keputusasaan
Hadir pelita harapan
Dalam gelapnya kesendirian
Hadir secercah cahaya
Membungkus diri yang begitu nista
Oleh derita yang membutakan
Ada masa bernama pertemuan
Ada pula masa bernama perpisahan
Diri itu kembali sendiri
Dan pada akhirnya…
Ketika sang waktu datang menjemput
Senyum simpul terhias di wajah polos itu
Pertanda terhapusnya derita
Gerimis turun pagi ini
Hangat mengiringi kepergiannya
Perlahan membelai jejaknya
Ketika datang suatu masa
Dia tidak sendiri lagi
ketika awan hitam menyelimuti bumi…
ketika sang langit mulai menangis
ketika sang mentari tak menyinari
seketika itu segala sirna
dalam kegelapan hatiku…
dalam keheningan yang menyesakkan
kau hadirkan pelita kecil
tuk jadi petunjuk dalam hidupku
namun kini…
lambat tapi pasti
pelita itu meredup…dan terus meredup
hatiku kembali hampa
hanya satu tanya
kuingin satu jawab tulus darimu
sahabat…
lupakah kau padaku?
Komentar Terakhir