Archive for the 'Puisi ku' Category

16
Jun

Buat Aku Terjaga

Awal yang muram untuk membuka hari
Sesuram sketsa abstrak terakhir yang kubuat
Entah pada apa ku menjejak
Tak ada bekas yang pasti dalam remang-remang kehidupan

Mana matahari?
Pagi yang sepekat kubangan tinta kelabu
Tanpa menjatuhkan tangisnya setetespun
Yang melumuri bumi dengan bayang-bayang sekarat
Hanya bisa membuatku membeku di ladang kemalasan

Mana angin hangat?
Hanya tertebar milyaran atom es di nusa
Tak terlihat, tak terdengar, bahkan tak sadar sedalam apa ia merasuk
Menghujamkan jutaan massa di kelopakku
Memerah-pekatkan korneaku hingga tak kukenali lagi
Meringkukkanku dalam mimpi yang sesak

Kebekuan yang menusuk ini…
Hanya membuatku terkapar tak berdaya
Aku tidak butuh
Hapus saja kelabu dari cakrawala

Berikan aku matahari
Agar bisa memaksaku bangun dari tahta kemalasanku
Berikan aku angin hangat
Agar bisa menghempaskan jutaan massa yang menimbun kelopakku

Hingga ku bisa melangkah
Mengiringi sang waktu…

by. Aoko
16 Juni 2009
10:51 AM

24
Mar

Angin

Hawa gersang menggelepar jalanan
Melambai menjerat siapa yang lewat
Hanya sebatas angin itu tersisa
meniupkan roh sasar ke segala arah

Kami hidup diantaranya
Ia hidup diantara kami
Tapi ia bebas…
Dan mengikat kami dalam belenggu bernama ‘nafas’

Kami ada karena ia ada
Andai ia hilang, kami lenyap bersamanya

Sehelainya kami hirup
Sedikit demi sedikit
Tanpa pernah habis

Angin memberi kami kehidupan
Juga memberi kami kematian
Kami datang dan pergi kapan saja
Tapi angin…
Selamanya ia selalu ada
Bebas dan selalu ada

by Aoko
Menunggu jam kuliah, Ruang D3. 203 FMIPA UNY
Senin, 23 Maret 2009

24
Mar

Gerimis

Hari ini…
Gerimis enggan menemuiku
Entah terhalang oleh apa
Apakah matahari telah menguapkannya?
Ataukah mendung yang terlalu berat untuk melepasnya?

Masa kecil yang barusan melintas sambil lalu
Menyingkap kenangan akan kebebasan
Merinduku akannya

Aku biasa menyambut dan memeluknya bagai kawan lama
Bermain-main dengannya dan sesekali
Bekas-bekasnya muncrat oleh kaki kecilku
Saat kupijak kaki di genangan kecil peraduannya

Tapi, dewasa itu telah menjemputku
Kutinggalkan sesosok mungil yang mirip aku itu
Kulihat ia sedang bercanda tawa bersamanya
Dia adalah aku, tapi aku bukan dia lagi
Tiada tempat bagiku saat ini dan seterusnya

Kini…
Kuringkukkan tubuh payah ini di pojok kamar
Hanya itu
Kupandang dari balik terali besi
Lewat kaca jendela
Tanpa bisa menyentuhnya

Karena itukah gerimis enggan menemuiku?

oleh Aoko
Minggu kelabu, mendung tanpa hujan
8 Februari 2009

01
Jan

Rasa yang Ragu

Sebuah nama, sebuah perasaan…

Saat akhir malam semakin dekat merayap

Sekelebat datang dan pergi tanpa sapa

Ia yang selalu melesat bagai anak panah

Apa yang membuatnya terhenti?

Papan target belumlah tercapai

Kenapa Ia terhenti?

Kesah dan resah yang selalu hadir di sini…

Terusir begitu saja olehnya

Dia datang

Bagaimanapun badai menerpa

Bagaimanapun hujan melebat

Dia tetap datang

Kini, semua itu berdebam menderaku

Saat sesosok tanya menuntut jawabku

“Akankah ada sesal yang terlintas?”

Aku tak tahu…

Jawab itu

Sesuatu yang tak pernah bisa kuberikan

15
Apr

Jiwa yang Senyap

Tahukah kau?
Hati yang terlelap oleh kelam
Mengabutkan kenangan yang ternistakan
Apa kau dengar irama itu?
Lantunan nada yang begitu merdu
Namun sarat oleh kepedihan
Dalam dirinya…
Yang hanya mengenal malam semata
Terlunta dalam siang yang benderang
Mata itu kembali sayu
Tak seorangpun makhlukNya
Dapat mengalahkan kesepian
Dirinya juga…
Ah… meski kadang angin dingin menerpa
Dia bertahan dalam tegar
Pergilah…
Rajut kembali sayapnya yang t’lah patah
Bawa ia…
Keluar dari kegelapan

15
Apr

Never Die Hope

As soon as a meeting
I’m coming
Waiting a figure who don’t know when will appear
When I’m open the same door
Straight and straight look for
The existence what never exist
In the end…
That figure never come
The rest is only an empty
In spite of…never any regret
Because I believe
Like a star’s light in the deep sky
Like make a wish to a falling star
Like that I believe
Until the end…
If many people still have a trust
The hope never die from the human’s heart

15
Apr

Penantian Terakhir

Suatu waktu dia terjaga
Dalam Kesendirian yang pekat
Menunggu datangnya sang waktu

Langkah-langkah kaki kecil itu
Mengalun merdu mengiringi jutaan rindu
Menggemakan salam seorang sahabat
Di suatu masa bernama pertemuan

Dalam penantian dan keputusasaan
Hadir pelita harapan
Dalam gelapnya kesendirian
Hadir secercah cahaya
Membungkus diri yang begitu nista
Oleh derita yang membutakan

Ada masa bernama pertemuan
Ada pula masa bernama perpisahan
Diri itu kembali sendiri

Dan pada akhirnya…
Ketika sang waktu datang menjemput
Senyum simpul terhias di wajah polos itu
Pertanda terhapusnya derita

Gerimis turun pagi ini
Hangat mengiringi kepergiannya
Perlahan membelai jejaknya
Ketika datang suatu masa
Dia tidak sendiri lagi

15
Apr

Jawabmu

ketika awan hitam menyelimuti bumi…
ketika sang langit mulai menangis
ketika sang mentari tak menyinari
seketika itu segala sirna

dalam kegelapan hatiku…
dalam keheningan yang menyesakkan
kau hadirkan pelita kecil
tuk jadi petunjuk dalam hidupku

namun kini…
lambat tapi pasti
pelita itu meredup…dan terus meredup
hatiku kembali hampa

hanya satu tanya
kuingin satu jawab tulus darimu
sahabat…
lupakah kau padaku?




Lovely Quote

Komentar Terakhir

 

Agustus 2009
M S S R K J S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

cbox