<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Puisi ku</title>
	<atom:link href="http://aotech.edublogs.org/category/puisi-ku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aotech.edublogs.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Aug 2009 06:20:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Buat Aku Terjaga</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2009/06/16/buat-aku-terjaga/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2009/06/16/buat-aku-terjaga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 04:54:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Awal yang muram untuk membuka hari
Sesuram sketsa abstrak terakhir yang kubuat
Entah pada apa ku menjejak
Tak ada bekas yang pasti dalam remang-remang kehidupan
Mana matahari?
Pagi yang sepekat kubangan tinta kelabu
Tanpa menjatuhkan tangisnya setetespun
Yang melumuri bumi dengan bayang-bayang sekarat
Hanya bisa membuatku membeku di ladang kemalasan
Mana angin hangat?
Hanya tertebar milyaran atom es di nusa
Tak terlihat, tak terdengar, bahkan tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awal yang muram untuk membuka hari<br />
Sesuram sketsa abstrak terakhir yang kubuat<br />
Entah pada apa ku menjejak<br />
Tak ada bekas yang pasti dalam remang-remang kehidupan</p>
<p>Mana matahari?<br />
Pagi yang sepekat kubangan tinta kelabu<br />
Tanpa menjatuhkan tangisnya setetespun<br />
Yang melumuri bumi dengan bayang-bayang sekarat<br />
Hanya bisa membuatku membeku di ladang kemalasan</p>
<p>Mana angin hangat?<br />
Hanya tertebar milyaran atom es di nusa<br />
Tak terlihat, tak terdengar, bahkan tak sadar sedalam apa ia merasuk<br />
Menghujamkan jutaan massa di kelopakku<br />
Memerah-pekatkan korneaku hingga tak kukenali lagi<br />
Meringkukkanku dalam mimpi yang sesak</p>
<p>Kebekuan yang menusuk ini&#8230;<br />
Hanya membuatku terkapar tak berdaya<br />
Aku tidak butuh<br />
Hapus saja kelabu dari cakrawala</p>
<p>Berikan aku matahari<br />
Agar bisa memaksaku bangun dari tahta kemalasanku<br />
Berikan aku angin hangat<br />
Agar bisa menghempaskan jutaan massa yang menimbun kelopakku</p>
<p>Hingga ku bisa melangkah<br />
Mengiringi sang waktu&#8230;</p>
<p>by. Aoko<br />
16 Juni 2009<br />
10:51 AM</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2009/06/16/buat-aku-terjaga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angin</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2009/03/24/angin/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2009/03/24/angin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 09:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi ku]]></category>
		<category><![CDATA[Angin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Hawa gersang menggelepar jalanan
Melambai menjerat siapa yang lewat
Hanya sebatas angin itu tersisa
meniupkan roh sasar ke segala arah
Kami hidup diantaranya
Ia hidup diantara kami
Tapi ia bebas&#8230;
Dan mengikat kami dalam belenggu bernama &#8216;nafas&#8217;
Kami ada karena ia ada
Andai ia hilang, kami lenyap bersamanya
Sehelainya kami hirup
Sedikit demi sedikit
Tanpa pernah habis
Angin memberi kami kehidupan
Juga memberi kami kematian
Kami datang dan pergi kapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hawa gersang menggelepar jalanan<br />
Melambai menjerat siapa yang lewat<br />
Hanya sebatas angin itu tersisa<br />
meniupkan roh sasar ke segala arah</p>
<p>Kami hidup diantaranya<br />
Ia hidup diantara kami<br />
Tapi ia bebas&#8230;<br />
Dan mengikat kami dalam belenggu bernama &#8216;nafas&#8217;</p>
<p>Kami ada karena ia ada<br />
Andai ia hilang, kami lenyap bersamanya</p>
<p>Sehelainya kami hirup<br />
Sedikit demi sedikit<br />
Tanpa pernah habis</p>
<p>Angin memberi kami kehidupan<br />
Juga memberi kami kematian<br />
Kami datang dan pergi kapan saja<br />
Tapi angin&#8230;<br />
Selamanya ia selalu ada<br />
Bebas dan selalu ada</p>
<p>by Aoko<br />
Menunggu jam kuliah, Ruang D3. 203 FMIPA UNY<br />
Senin, 23 Maret 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2009/03/24/angin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerimis</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2009/03/24/gerimis/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2009/03/24/gerimis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 09:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi ku]]></category>
		<category><![CDATA[Gerimis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini&#8230;
Gerimis enggan menemuiku
Entah terhalang oleh apa
Apakah matahari telah menguapkannya?
Ataukah mendung yang terlalu berat untuk melepasnya?
Masa kecil yang barusan melintas sambil lalu
Menyingkap kenangan akan kebebasan
Merinduku akannya
Aku biasa menyambut dan memeluknya bagai kawan lama
Bermain-main dengannya dan sesekali
Bekas-bekasnya muncrat oleh kaki kecilku
Saat kupijak kaki di genangan kecil peraduannya
Tapi, dewasa itu telah menjemputku
Kutinggalkan sesosok mungil yang mirip aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini&#8230;<br />
Gerimis enggan menemuiku<br />
Entah terhalang oleh apa<br />
Apakah matahari telah menguapkannya?<br />
Ataukah mendung yang terlalu berat untuk melepasnya?</p>
<p>Masa kecil yang barusan melintas sambil lalu<br />
Menyingkap kenangan akan kebebasan<br />
Merinduku akannya</p>
<p>Aku biasa menyambut dan memeluknya bagai kawan lama<br />
Bermain-main dengannya dan sesekali<br />
Bekas-bekasnya muncrat oleh kaki kecilku<br />
Saat kupijak kaki di genangan kecil peraduannya</p>
<p>Tapi, dewasa itu telah menjemputku<br />
Kutinggalkan sesosok mungil yang mirip aku itu<br />
Kulihat ia sedang bercanda tawa bersamanya<br />
Dia adalah aku, tapi aku bukan dia lagi<br />
Tiada tempat bagiku saat ini dan seterusnya</p>
<p>Kini&#8230;<br />
Kuringkukkan tubuh payah ini di pojok kamar<br />
Hanya itu<br />
Kupandang dari balik terali besi<br />
Lewat kaca jendela<br />
Tanpa bisa menyentuhnya</p>
<p>Karena itukah gerimis enggan menemuiku?</p>
<p>oleh Aoko<br />
Minggu kelabu, mendung tanpa hujan<br />
8 Februari 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2009/03/24/gerimis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rasa yang Ragu</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2009/01/01/rasa-yang-ragu/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2009/01/01/rasa-yang-ragu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 11:23:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah nama, sebuah perasaan&#8230;
Saat akhir malam semakin dekat merayap
Sekelebat datang dan pergi tanpa sapa
Ia yang selalu melesat bagai anak panah
Apa yang membuatnya terhenti?
Papan target belumlah tercapai
Kenapa Ia terhenti?
Kesah dan resah yang selalu hadir di sini&#8230;
Terusir begitu saja olehnya
Dia datang
Bagaimanapun badai menerpa
Bagaimanapun hujan melebat
Dia tetap datang
Kini, semua itu berdebam menderaku
Saat sesosok tanya menuntut jawabku
&#8220;Akankah ada sesal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah nama, sebuah perasaan&#8230;</p>
<p>Saat akhir malam semakin dekat merayap</p>
<p>Sekelebat datang dan pergi tanpa sapa</p>
<p>Ia yang selalu melesat bagai anak panah</p>
<p>Apa yang membuatnya terhenti?</p>
<p>Papan target belumlah tercapai</p>
<p>Kenapa Ia terhenti?</p>
<p>Kesah dan resah yang selalu hadir di sini&#8230;</p>
<p>Terusir begitu saja olehnya</p>
<p>Dia datang</p>
<p>Bagaimanapun badai menerpa</p>
<p>Bagaimanapun hujan melebat</p>
<p>Dia tetap datang</p>
<p>Kini, semua itu berdebam menderaku</p>
<p>Saat sesosok tanya menuntut jawabku</p>
<p>&#8220;Akankah ada sesal yang terlintas?&#8221;</p>
<p>Aku tak tahu&#8230;</p>
<p>Jawab itu</p>
<p>Sesuatu yang tak pernah bisa kuberikan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2009/01/01/rasa-yang-ragu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jiwa yang Senyap</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/jiwa-yang-senyap/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/jiwa-yang-senyap/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 08:33:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/jiwa-yang-senyap/</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah kau?
Hati yang terlelap oleh kelam
Mengabutkan kenangan yang ternistakan
Apa kau dengar irama itu?
Lantunan nada yang begitu merdu
Namun sarat oleh kepedihan
Dalam dirinya&#8230;
Yang hanya mengenal malam semata
Terlunta dalam siang yang benderang
Mata itu kembali sayu
Tak seorangpun makhlukNya
Dapat mengalahkan kesepian
Dirinya juga&#8230;
Ah&#8230; meski kadang angin dingin menerpa
Dia bertahan dalam tegar
Pergilah&#8230;
Rajut kembali sayapnya yang t&#8217;lah patah
Bawa ia&#8230;
Keluar dari kegelapan
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahukah kau?<br />
Hati yang terlelap oleh kelam<br />
Mengabutkan kenangan yang ternistakan<br />
Apa kau dengar irama itu?<br />
Lantunan nada yang begitu merdu<br />
Namun sarat oleh kepedihan<br />
Dalam dirinya&#8230;<br />
Yang hanya mengenal malam semata<br />
Terlunta dalam siang yang benderang<br />
Mata itu kembali sayu<br />
Tak seorangpun makhlukNya<br />
Dapat mengalahkan kesepian<br />
Dirinya juga&#8230;<br />
Ah&#8230; meski kadang angin dingin menerpa<br />
Dia bertahan dalam tegar<br />
Pergilah&#8230;<br />
Rajut kembali sayapnya yang t&#8217;lah patah<br />
Bawa ia&#8230;<br />
Keluar dari kegelapan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/jiwa-yang-senyap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Never Die Hope</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/never-die-hope/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/never-die-hope/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 08:31:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/never-die-hope/</guid>
		<description><![CDATA[As soon as a meeting
I&#8217;m coming
Waiting a figure who don&#8217;t know when will appear
When I&#8217;m open the same door
Straight and straight look for
The existence what never exist
In the end&#8230;
That figure never come
The rest is only an empty
In spite of&#8230;never any regret
Because I believe
Like a star&#8217;s light in the deep sky
Like make a wish to a [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>As soon as a meeting<br />
I&#8217;m coming<br />
Waiting a figure who don&#8217;t know when will appear<br />
When I&#8217;m open the same door<br />
Straight and straight look for<br />
The existence what never exist<br />
In the end&#8230;<br />
That figure never come<br />
The rest is only an empty<br />
In spite of&#8230;never any regret<br />
Because I believe<br />
Like a star&#8217;s light in the deep sky<br />
Like make a wish to a falling star<br />
Like that I believe<br />
Until the end&#8230;<br />
If many people still have a trust<br />
The hope never die from the human&#8217;s heart</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/never-die-hope/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penantian Terakhir</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/penantian-terakhir/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/penantian-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 08:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/penantian-terakhir/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu waktu dia terjaga
Dalam Kesendirian yang pekat
Menunggu datangnya sang waktu
Langkah-langkah kaki kecil itu
Mengalun merdu mengiringi jutaan rindu
Menggemakan salam seorang sahabat
Di suatu masa bernama pertemuan
Dalam penantian dan keputusasaan
Hadir pelita harapan
Dalam gelapnya kesendirian
Hadir secercah cahaya
Membungkus diri yang begitu nista
Oleh derita yang membutakan
Ada masa bernama pertemuan
Ada pula masa bernama perpisahan
Diri itu kembali sendiri
Dan pada akhirnya&#8230;
Ketika sang waktu datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu waktu dia terjaga<br />
Dalam Kesendirian yang pekat<br />
Menunggu datangnya sang waktu</p>
<p>Langkah-langkah kaki kecil itu<br />
Mengalun merdu mengiringi jutaan rindu<br />
Menggemakan salam seorang sahabat<br />
Di suatu masa bernama pertemuan</p>
<p>Dalam penantian dan keputusasaan<br />
Hadir pelita harapan<br />
Dalam gelapnya kesendirian<br />
Hadir secercah cahaya<br />
Membungkus diri yang begitu nista<br />
Oleh derita yang membutakan</p>
<p>Ada masa bernama pertemuan<br />
Ada pula masa bernama perpisahan<br />
Diri itu kembali sendiri</p>
<p>Dan pada akhirnya&#8230;<br />
Ketika sang waktu datang menjemput<br />
Senyum simpul terhias di wajah polos itu<br />
Pertanda terhapusnya derita</p>
<p>Gerimis turun pagi ini<br />
Hangat mengiringi kepergiannya<br />
Perlahan membelai jejaknya<br />
Ketika datang suatu masa<br />
Dia tidak sendiri lagi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/penantian-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jawabmu</title>
		<link>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/jawabmu/</link>
		<comments>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/jawabmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 08:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aotech</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/jawabmu/</guid>
		<description><![CDATA[ketika awan hitam menyelimuti bumi&#8230;
ketika sang langit mulai menangis
ketika sang mentari tak menyinari
seketika itu segala sirna
dalam kegelapan hatiku&#8230;
dalam keheningan yang menyesakkan
kau hadirkan pelita kecil
tuk jadi petunjuk dalam hidupku
namun kini&#8230;
lambat tapi pasti
pelita itu meredup&#8230;dan terus meredup
hatiku kembali hampa
hanya satu tanya
kuingin satu jawab tulus darimu
sahabat&#8230;
lupakah kau padaku?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ketika awan hitam menyelimuti bumi&#8230;<br />
ketika sang langit mulai menangis<br />
ketika sang mentari tak menyinari<br />
seketika itu segala sirna</p>
<p>dalam kegelapan hatiku&#8230;<br />
dalam keheningan yang menyesakkan<br />
kau hadirkan pelita kecil<br />
tuk jadi petunjuk dalam hidupku</p>
<p>namun kini&#8230;<br />
lambat tapi pasti<br />
pelita itu meredup&#8230;dan terus meredup<br />
hatiku kembali hampa</p>
<p>hanya satu tanya<br />
kuingin satu jawab tulus darimu<br />
sahabat&#8230;<br />
lupakah kau padaku?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aotech.edublogs.org/2008/04/15/jawabmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
