Archive for the 'Renungan' Category

29
Des

Pesan untuk Semua

Pada saat kita dipisahkan oleh waktu, itulah akhir kisah kita
Tapi, akhir dari sebuah kisah merupakan awal dari sebuah kisah baru
Kisah baru kita telah dimulai, kawan
Mari kita mulai kisah kita dengan indahnya persahabatan
Kita tahu, Setiap insan memiliki perbedaan
Tapi, selama kita bisa saling menghargai perbedaan masing-masing…
Akan terjalin persahabatan yang indah di masa depan
Ingatlah kawan, persahabatan bukanlah sebuah kata kosong
Persahabatan menyiratkan beribu makna
Jangan pernah lupakan itu
Memiliki seorang sahabat sejati jauh lebih berarti…
Daripada memiliki seribu teman yang mementingkan diri sendiri
Sangat beruntung orang yang bisa mendapatkan seorang sahabat
Tapi ada juga orang yang begitu hancur karena dikhianati oleh sahabat
Jika kita memiliki seorang sahabat sejati…jagalah ia
Jagalah hatinya…
Jagalah persahabatan kalian

by. Aoko

05
Des

Kedamaian, Akankah Ia Terbangun?

Sebuah rangkai kata ini ingin kuungkap ke permukaan. Saat dunia butuh sentuhan arti kehidupan, saat-saat seperti itulah kita dibutuhkan. Aku tak mengerti kenapa teramat banyak orang terlunta-lunta dengan hidup mereka sendiri. Aku juga tak mengerti kenapa ada orang yang membuang hidupnya sementara yang lain memperjuangkannya. Setiap untaian nama, memiliki ceritanya masing-masing. Akankah cerita-cerita itu bertemu dan saling merangkai satu sama lain? tentu saja, sebab kita tidak sendirian. Apa yang membuat cerita-cerita itu saling merangkai? pada akhirnya, jawabannya hanya satu, cinta… cinta kasih pada sesama. Itulah kekuatan paling dasar yang merangkai seluruh kehidupan semesta.

Namun, aku tak mengerti kenapa masih saja banyak terjadi perpecahan di dunia ini? pertengkaran, perkelahian, tawuran, sampai perang pun ada. Apakah cinta di dunia ini tak cukup untuk meredam itu semua? ataukah orang-orang terlalu egois untuk bisa menyadari kekuatan cinta?

Dapatkah cinta menyatukan dunia di bawah panji-panji perdamaian? entahlah… kita takkan tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bukan? Tapi, satu yang pasti. Aku tak menginginkan pengikisan ataupun penghancuran, itu bencana besar kalau sampai terjadi. Aku hanya mengharapkan keberadaan, keberadaan setiap umat manusia, tanpa ada kesakitan, tanpa ada ketersiksaan. Akankah di suatu hari kelak kedamaian akan terbangun dari tidur panjangnya, dan berdiri tegak untuk menaungi semesta ini? Ya, itu adalah harapan. Tak ada yang salah dengan harapan. Selama ada harapan, seseorang bisa terus berjuang untuk sesuatu yang ia yakini…

Aku ingin sekali membangunkan kedamaian dari tidurnya…

10
Apr

Selamatkan Bumi Kita

[Estimasi] Bumi makin panas

Tahun 2040 : 2000 pulau tenggelam

Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan.

“Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?” barangkali begitulah Anda berpikir.

Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) mempublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda yang kasat mata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan-lapisan teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.

Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya
udara Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.

Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.

Cara-cara praktis dan sederhana ‘mendinginkan’ bumi :

1. Matikan listrik.
(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).

2. Ganti bohlam lampu ke jenis CFL, sesuai daya listrik.
Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).

3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).

4. Jika terpaksa memakai AC….
Tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).

5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).

6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.

7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.

8. Jemur pakaian di luar.
Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.

9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).

10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).

11. Say no to plastic.
Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.

12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.

Artikel ini diambil dari : http://c0ffecat-jun.deviantart.com/journal/

22
Mar

Dunia dalam Tegar

Bila kita lihat kembali bumi sekarang… apa yang dapat terlihat kini? keruh. Bumi tak lagi tampak bersih. Banyak sekali pencemaran yang terjadi, mulai dari air, darat, udara…tak ada yang luput dari polusi… penebangan pohon secara liar, penggundulan hutan, pembakaran hutan, penambangan liar… entah berapa banyak lagi kerusakan bumi karena ulah manusia. Dan topik yang sekarang sedang panas-panasnya adalah global warming alias pemanasan global.

Hingga akhirnya ketika dunia mulai marah, ketika bencana alam mulai melanda, siapa yang patut untuk dipersalahkan? Semua manusia yang punya hati pasti akan tersadar kalau semua yang terjadi adalah ulah mereka sendiri. Siapa yang menanam pasti akan menuai. Umat manusia mulai bertindak dengan gencar memprotes perusakan terhadap bumi, mulai memasang spanduk mengenai peringatan akan pemanasan global. Mereka tidak hanya bicara, tapi juga mulai bertindak. Hanya saja, apa yang telah dilakukan sedikit terlambat…akan butuh waktu puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan tahun agar segalanya kembali normal. Tetapi, apakah kita akan diberi banyak waktu untuk itu? bagaimana generasi sesudahnya? apakah mereka akan melanjutkan perjuangan manusia masa sekarang? tak ada yang tahu.

Tapi manusia tak akan pernah kehilangan harapan untuk mendiami bumi yang lebih baik. Tak akan pernah. Namun, semua akan sia-sia saja jika tak ada penanganan serius dari semuanya. Tak perlu banyak bicara tentang hal-hal besar yang belum tentu bisa terealisasi dengan baik. Tak perlu banyak bicara. Hanya tindakan riil yang dibutuhkan untuk ini semua. Sekecil apapun itu. Bukan obrolan yang tak punya arah, bukan perdebatan panjang yang tak tahu mana ujung mana pangkal, bukan sekedar coba-coba, melainkan tindakan. Benar-benar tindakan. Tindakan nyata untuk dunia yang telah terluka oleh ulah kaki-tangan manusia.

Dan pada akhirnya, manusia perlu merenung. Renungan untuk bumi. Lalu bertindaklah sebelum betul-betul terlambat.

Dunia dalam Tegar

 

 

Sesosok pagi itu datang
Menghadirkan semangat
Meski hanya sebentang cakrawala

 

Sapaan alam yang menggema
Mengusik diri yang menyepi
Mengguratkan pesan sebuah nama

Alam…
Topangan hidup para insan-Nya
yang seolah lupa
akan bisikan dari surga

 

Belaian angin…
Arakan awan…
Deburan ombak…

 

Seakan menanti tangan-tangan itu
Membenamkannya ke dasar hati manusia
Tak ada yang salah dengan alam

 

Meski kelam membelam
Meski tangan-tangan itu berulah
Meski kehendak tak tersampaikan
Dunia tetap mengulum senyum

 

Tak terhitung derita dunia
Oleh tangan-tangan makhluk-Nya
Tangan jahanam yang merambah jantung dunia

 

Kita…
Manusia…
Insan dunia yang durhaka pada ibu pertiwi
Pantaskah kita menghirup nafas kehidupan…
Setelah kita menoreh luka pada dunia?
Pantaskah kita?

 

Sesaat dunia marah
Sesaat kita tersadar
Sesaat dunia tertawa
Sesaat itu kita kembali lupa

 

Namun…
Dunia tetap mengulum senyum
Senyum yang takkan pernah lenyap
Dari wajah dunia yang telah luka…




Lovely Quote

Komentar Terakhir

 

Agustus 2009
M S S R K J S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

cbox